Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sejumlah Negara Masih Terpecah soal Penyediaan Dana Iklim

📅 Jumat, 22 Nov 2024, 01:30 WIB | Oleh:
Sejumlah Negara Masih Terpecah soal Penyediaan Dana Iklim Doc: istimewa
Ket. Para aktivis melakukan protes di konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa COP29, di Baku, Kamis (21/11).

BAKU – Draf baru Perjanjian Iklim yang diluncurkan pada hari Kamis (21/11) di Perundingan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (COP29), gagal memecahkan kebuntuan terkait dana, sehingga waktu terus berjalan bagi negara-negara untuk mencapai kesepakatan keuangan triliunan dollar AS yang telah lama dinantikan.

Dikutip dari The Straits Times, COP29 seharusnya berakhir pada 22 November, tetapi draf terbaru hanya menggarisbawahi perpecahan saat negara-negara kembali ke meja perundingan.

“Mengenai teks secara keseluruhan, saya tidak akan berbasa-basi, ini jelas tidak dapat diterima sebagaimana adanya sekarang. Saya yakin tidak ada satu pun negara ambisius yang menganggap hal ini cukup baik,” kata Komisioner Iklim Uni Eropa, Wopke Hoekstra.

Hampir 200 negara di Baku seharusnya menyetujui target baru untuk mengganti dana 100 miliar dollar AS per tahun yang dijanjikan negara-negara kaya untuk negara-negara miskin guna membantu mereka beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang makin memburuk dan menghentikan penggunaan bahan bakar fosil yang mencemari.

Banyak negara berkembang mendesak pendanaan sebesar 1,3 triliun dollar AS, sebagian besar dari kas pemerintah, meskipun negara-negara kaya menolak tuntutan tersebut dan bersikeras uang swasta harus menjadi bagian dari tujuan akhir.

Draf terbaru mengakui negara-negara berkembang memerlukan komitmen setidaknya “USD (X) triliun” per tahun, tanpa memperhitungkan angka pasti penting yang diminta di Baku.

Tidak Terpecahkan

Ali Mohamed, Ketua Kelompok Negosiator Afrika, sebuah blok negosiasi penting, mengatakan masalah yang tidak terpecahkan adalah angka konkret yang hilang.

“Inilah alasan kita ada di sini, tetapi kita belum lebih dekat dan kita membutuhkan negara-negara maju untuk segera terlibat dalam masalah ini,” kata Mohamed, yang juga merupakan Utusan Iklim Kenya.

Poin-poin penting lainnya yang menjadi perdebatan, termasuk siapa yang menyumbang dan bagaimana uang itu dikumpulkan dan disalurkan, tidak terselesaikan dalam dokumen setebal 10 halaman itu.

Banyak negara juga telah menyatakan kekhawatiran janji untuk meninggalkan bahan bakar fosil yang dibuat pada COP28 tahun lalu diabaikan di Baku.

Menteri Iklim Irlandia, Eamon Ryan, menegaskan negosiasi mengenai keuangan berjalan maju dalam diskusi rahasia. "Teks ini jelas bukan teks final. Teks ini akan sangat berbeda. Namun, saya rasa masih ada ruang untuk kesepakatan lebih lanjut," katanya. 

Sedangkan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Andreas Bjelland Eriksen,  juga menawarkan pandangan yang lebih cerah. “Batas waktunya belum tiba,” katanya.

Draf tersebut memperkuat posisi yang luas dan berseberangan antara negara maju dan negara berkembang yang sebagian besar telah bertahan sejak COP29 dibuka lebih dari seminggu yang lalu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Perluasan Pasar Bisa Melalui Mekanisme Digital

22 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perluasan Pasar Bisa Melalu...

Pembangunan SDM, Sekolah-sekolah di Tangsel Bersifat Inklusif

24 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Pembangunan SDM, Sekolah-se...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp71.600/...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.