Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Refleksi Kurikulum Merdeka, Buku Cerita Anak Perkuat Literasi Siswa

📅 Senin, 11 Nov 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Buku cerita digital ini dapat diakses secara gratis melalui berbagai platform, seperti Let’s Read Asia, Literasi Cloud, dan SIBI dari Kemendikbud. Buku-buku ini juga tidak hanya mengutamakan aksesibilitas, tetapi juga kualitas: cerita dan ilustrasi yang tersedia di platform-platform tersebut disusun dengan standar tinggi yang setara dengan buku cetak.

Buku digital tersebut telah dikategorikan dan diatur berdasarkan jenjang kemampuan membaca siswa, sehingga siswa dapat memilih buku sesuai dengan tingkat baca mereka, membuat pengalaman membaca menjadi lebih efektif dan terarah.

Dengan akses yang mudah dan fleksibel, buku digital dapat menjadi alternatif strategis untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan membaca serta membangkitkan minat baca mereka.

Perjuangan belum selesai

Meski telah ada upaya penyediaan buku bacaan berkualitas, tantangan literasi Indonesia masih cukup besar. Berdasarkan skor PISA, kemampuan literasi siswa Indonesia masih tertinggal di bawah rata-rata Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)—organisasi internasional dari 38 negara yang berkomitmen pada demokrasi dan ekonomi.

Sementara itu, data asesmen nasional tahun 2021 menunjukkan bahwa 5 dari 10 siswa di tingkat SD hingga SMA belum mencapai kompetensi literasi minimum. Meskipun data asesmen nasional tahun 2023 menunjukkan sedikit perbaikan dengan hanya 4 dari 10 siswa yang belum mencapai standar, situasi ini masih menunjukkan darurat literasi.

Dengan demikian, dukungan terhadap buku bacaan bermutu perlu tetap menjadi prioritas dalam kebijakan pendidikan dari pemerintahan saat ini, apapun bentuk kurikulum yang diterapkan nantinya. Penekanan pada penggunaan buku cerita anak, baik cetak maupun digital, dapat membantu anak-anak memahami konsep literasi dengan lebih baik, meningkatkan keterampilan berpikir kritis, serta mengembangkan kemampuan bahasa dan komunikasi mereka.

Jadi, terlepas dari evaluasi kurikulum pendidikan yang dilakukan pemerintahan Prabowo, penekanan pada program literasi melalui buku cerita anak sebaiknya tetap menjadi perhatian utama. Sebab, penyelenggaraan pendidikan yang memberikan akses kepada buku cerita anak berkualitas merupakan investasi jangka panjang yang akan memperkuat kemampuan literasi generasi muda Indonesia.The Conversation

Nilam Pamularsih, PhD Researcher, University of Adelaide

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.