Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pertumbuhan Global Berpusat di Asia, RI Harus Tangkap Peluang

📅 Sabtu, 26 Okt 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pertumbuhan Global Berpusat di Asia, RI Harus Tangkap Peluang Doc: ISTIMEWA
Ket. Pertumbuhan Ekonomi Global

JAKARTA - Asia kini menjadi pusat utama pertumbuhan ekonomi dunia, dan memberikan kontribusi sebesar 60 persen terhadap pertumbuhan global. Di tengah momentum ini, ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menyatakan Indonesia harus segera menangkap peluang yang ada.

"Indonesia perlu memperkuat posisi dengan membenahi sektor-sektor strategis yang memiliki nilai tambah tinggi, seperti manufaktur, ekonomi kreatif, dan teknologi," ujar Aditya saat dihubungi Koran Jakarta, Jumat (25/10).

Aditya ini menanggapi yang disampaikan Direktur Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), Krishna Srinivasan. Menurut Srinivasan, Asia, yang memberikan kontribusi sebesar 60 persen terhadap pertumbuhan global, jelas merupakan pusat kekuatan ekonomi global.

"Ini adalah kawasan paling dinamis di dunia. Asia memiliki jumlah tenaga kerja yang sangat besar. Banyak di antaranya juga merupakan tenaga kerja terampil. Ini adalah kawasan yang sangat terintegrasi dalam rantai pasokan global, dan terakhir, Asia adalah kawasan yang telah mengalami peningkatan besar dalam pertumbuhan produktivitas," ujar Srinivasan.

Lebih jauh, Aditya menilai langkah pertama yang perlu diambil adalah meningkatkan daya saing tenaga kerja melalui pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan berbasis industri. Peningkatan produktivitas tenaga kerja akan mendorong investasi asing, khususnya pada sektor berteknologi tinggi.

"Tidak cukup hanya mengandalkan pasar dalam negeri, kita harus menyiapkan tenaga kerja yang siap bersaing di pasar global," tegasnya.

Perkuat Kerja Sama

Selain itu, Aditya menekankan pentingnya peran Indonesia dalam memperkuat kerja sama regional, khususnya Asean dan forum APEC, untuk memastikan stabilitas perdagangan di tengah fragmentasi geoekonomi. "Indonesia harus berperan aktif dalam kerja sama multilateral agar tidak tertinggal dalam rantai pasokan global," katanya.

Sebaiknya Anda baca juga:

Dengan demikian, Indonesia dapat berkontribusi langsung dalam menjaga keterbukaan perdagangan yang sangat vital bagi pertumbuhan kawasan. Menurut Aditya, tanpa langkah nyata dan strategis, Indonesia berisiko menjadi penonton dalam kebangkitan Asia.

Sementara itu, pakar ekonomi internasional Universitas Airlangga, Surabaya, Rossanto Dwi Handoyo, mengatakan Indonesia harus memanfaatkan tren perkembangan Asia yang sedang menuju pusat pertumbuhan global dengan membantu dan mendorong agar UKM agar memiliki ruang untuk merambah pasar ekspor.

"Sebagai negara small open economy, perekonomian Indonesia sangat rawan terpengaruh oleh kondisi ekonomi dunia," kata Rossanto.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.