Dari Hutan hingga Lautan, Alam dalam Kondisi yang Menyedihkan
📅 Sabtu, 19 Okt 2024, 00:02 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: istimewa
CALI - Perusakan alam global telah mencapai titik ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat pertemuan puncak keanekaragaman hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa,Conference of the Parties to the United Nations Convention on Biological Diversity (CBD COP16), selama dua minggu dimulai pada hari Senin (14/10) di Cali, Kolombia, yang perlu diketahui tentang kemerosotan alam yang terjadi dan pentingnya hal itu bagi ekonomi global.
Dikutip dari The Straits Times, tumbuhan dan hewan berperan penting dalam menjaga keberlangsungan alam, mulai dari mendaur ulang nutrisi di seluruh ekosistem hingga mengangin-anginkan tanah dan mengelola sungai. Tanpa tumbuhan dan hewan, dunia tidak akan layak huni bagi manusia.
"Namun, lebih dari seperempat spesies yang diketahui di dunia, atau total sekitar 45.300 spesies, kini terancam punah," kata Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam atauInternational Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).
Hewan yang berada di ambang kepunahan termasuk lumba-lumba vaquita di Meksiko, badak putih utara di Afrika, dan serigala merah di Amerika Serikat.
Menurut World Wide Fund for Nature (WWF),populasi hewan liar yang dipantau telah menyusut 73 persen secara global pada tahun 2020 dibandingkan dengan angka tahun 1970.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena hutan merupakan rumah bagi spesies tumbuhan dan hewan terbanyak di ekosistem mana pun, termasuk 68 persen spesies mamalia, para ilmuwan menganggap tingkat penggundulan hutan menjadi indikator yang baik untuk kerusakan alam.
Pada tahun 2021, lebih dari 100 negara berjanji untuk menghentikan penggundulan hutan dan degradasi hutan pada tahun 2030. Hingga tahun 2023, jumlah lahan yang mengalami penggundulan hutan 45 persen lebih tinggi dari yang seharusnya untuk memenuhi target tahun 2030, menurut Penilaian Deklarasi Hutan, sebuah analisis tahunan yang dirilis oleh koalisi organisasi penelitian dan masyarakat sipil.
"Meskipun laju penggundulan hutan di Amazon Brazil menurun, analisis menunjukkan laju tersebut meningkat di Bolivia, Indonesia, dan Republik Demokratik Kongo," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para ilmuwan juga mengkhawatirkan degradasi hutan, dengan kebakaran, penebangan, dan kekuatan destruktif lainnya yang merusak hutan tetapi tidak menghancurkannya sepenuhnya. Penilaian menunjukkan bahwa tujuan mengakhiri degradasi masih melenceng 20 persen.
Penangkapan ikan merupakan penyebab utama kerusakan satwa liar laut, menurut Platform Sains-Kebijakan Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Layanan Ekosistem atauIntergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), otoritas sains global teratas tentang alam.
"Lebih dari 40 negara, dengan populasi gabungan sebesar 3,2 miliar orang, bergantung pada makanan laut untuk setidaknya 20 persen protein gizi mereka," ujar Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atauFood and Agriculture Organization (FAO).
Menurut FAO, sekitar 38 persen dari stok ikan mengalami penangkapan ikan secara berlebihan, dibandingkan dengan sekitar 10 persen pada pertengahan tahun 1970-an. WWF mengatakan penangkapan ikan yang berlebihan juga mengganggu ekosistem terumbu karang, yang menyediakan tempat berlindung, makanan, dan tempat berkembang biak bagi seperempat kehidupan laut dunia.
Tahun ini telah terjadi pemutihan karang massal keempat di dunia, dengan lebih dari separuh area terumbu karang di dunia memutih akibat suhu laut yang tinggi.
Menurut WWF, pertanian menyebabkan sekitar 90 persen penggundulan hutan tropis, seiring dengan dibukanya hutan untuk pertanian kedelai, peternakan sapi, perkebunan kelapa sawit, dan produksi massal komoditas lainnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!