Ini Tangan-tangan Pemoles Talenta Istimewa
📅 Rabu, 16 Okt 2024, 00:46 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Mohammad Ayudha
Jakarta - Saat menjalani kuliah di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, tidak pernah terlintas di pikiran Winarno untuk berkarier sebagai seorang pelatih paraatletik atau cabang olahraga atletik untuk kelompok dengan disabilitas.
Namun, ketika dirinya mendapatkan peluang untuk mengabdi di National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Jawa Tengah pada tahun 2016, dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Berbekal kemampuan berlari, karena dia pernah berkarier sebagai atlet lari, Winarno menatap profesi barunya dengan yakin.
Dan, ternyata, apa yang dilaluinya di NPC Jateng sesuai ekspektasi. Bagi Winarno, menangani taktik, fisik dan mental atlet dengan disabilitas selalu menjadi aktivitas yang menarik.
Di NPCI Jawa Tengah, pria berusia 30 tahun itu diberikan tanggung jawab untuk memoles kemampuan para atlet difabel di nomor lari jarak pendek yakni 100 meter, 200 meter dan 400 meter.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sehari-hari, Winarno melatih atlet dengan beragam disabilitas seperti tunanetra, tunadaksa dan tunagrahita.
Tentu saja, hal itu tidak mudah dilakukan karena dirinya mesti melakukan penyesuaian-penyesuaian. Winarno tidak bisa menyamaratakan semua menu latihan kepada setiap pelari di NPCI Jawa Tengah.
Untuk atlet tunadaksa dengancerebral palsy(CP), misalnya, Winarno dan timnya memberikan aktivitas latihan yang sering diulangi agar sang atlet dapat merekam gerakannya dengan baik. Latihan pun mesti beradaptasi dengan gerak atlet CP yang terbatas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemudian, untuk atlet lari tunanetra, Winarno menetapkan menu latihan yang berbeda dan kegiatan itu wajib dilakukan denganguideatau pemandu.
Atlet tunanetra khususnya yang menderita kebutaan total memang memerlukan tuntunan seorangguide saatmenjalani lomba lari.
Tentu saja tidak gampang menunaikan pekerjaan tersebut. Untuk pelari tunanetra pemula, perlu berbulan-bulan sampai mereka dan para guide menemukan keharmonisan saat berlari.
Di luar sisi teknis, Winarno dan tim pelatih NPCI Jawa Tengah pun wajib untuk menjaga keamanan dan kesehatan atlet-atlet mereka.
Belum lagi jika suasana hati (mood) atlet berubah, Winarno harus pandai melakukan pendekatan dan bijak memilih kata supaya motivasi anak-anak asuhnya naik kembali.
"Ketika motivasi terbangun, tekad atlet untuk berprestasi semakin kuat," ujar dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!