45 Persen Pendapatan Negara untuk Bayar Utang
📅 Kamis, 10 Okt 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiKekurangan (belanjanya) berapa? Itu masih kurang 300 triliun rupiah" katanya.
Mengingat kondisi itu, Drajad berpendapat urgensi pembentukan Badan Penerimaan Negara (BPN) menjadi lebih tinggi.
BPN nantinya dirancang untuk mengandung tiga unsur transformasi, yakni transformasi kelembagaan, teknologi, dan kultur.
Ia mengakui pembentukan BPN tidak serta merta mengerek pendapatan negara dalam waktu singkat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, ia yakin BPN dapat menjadi pemicu akselerasi transformasi itu.
"Quick Win" Terbentur
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan dengan besarnya beban kewajiban pembayaran utang tahun depan, pemerintah dikhawatirkan sulit menjalankan kebijakan untuk dorong pemulihan daya beli masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Program Quick Win Prabowo tahun pertama akan terbentur ketersediaan ruang fiskal.
"Mau jalankan makan bergizi gratis, tapi bayar utang lebih urgent karena mempengaruhi rating surat utang pemerintah," kata Bhima.
Oleh karena itu, pemerintah diminta melakukan inovasi untuk meringankan beban utang, salah satunya melalui pertukaran utang dengan program transisi energi.
Misalnya, pendanaan Just Energy Transition Partnership (JETP) dengan pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, yang bisa ditukar dengan utang atau debt swap untuk kurangi beban utang pemerintah.
"Mesir dan Jerman mencontohkan debt swap untuk transisi energi," tutup Bhima.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!