Mahasiswa Kedokteran Sering Alami Perundungan Nonverbal
📅 Sabtu, 28 Sep 2024, 03:03 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Tangkapan layar Muhamad Ma'rup
Kemenkes menyatakan mahasiswa kedokteran kerap menerima perundungan nonverbal maupun nonfisik. Pengaduan yang masuk paling banyak nonverbal.
JAKARTA - Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Murti Utami, menyebut perundungan atau bullying nonverbal dan nonfisik kerap menimpa mahasiswa kedokteran. Pihaknya kerap menerima aduan terkait hal tersebut.
"Nonverbal dan nonfisik itu perundungan menurut saya yang membuat orang juga menjadi kelelahan gitu ya. Nah ini yang paling banyak seperti itu," ujar Murti, dalam siaran Kemencast secara daring, Jumat (27/9).
Dia menerangkan, dari 370 pengaduan yang masuk, sebagian besar adalah hampir 50-52 persen itu adalah perundungan nonverbal. Menurutnya, salah satu bentuk perundungan seperti penambahan jam jaga dan memberikan uang kepada senior.
Murti menekankan, perundungan tersebut semestinya tidak boleh ada dalam pendidikan kedokteran. Menurutnya, hal tersebut bertentangan dengan moral seorang dokter.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Betul dokter itu adalah pekerja sosial yang harusnya bekerja dalam hati dia, tapi kalau dengan ada bullying ini saya yakin mental modelnya nanti jadi berubah," jelasnya.
Dia menyebut, ketika pihaknya menanyakan terkait hal tersebut baik ke rumah sakit maupun fakultas kedokteran, keduanya kerap menyebut tempatnya bersih dari perundungan. Padahal, dia yakin praktik-praktik tersebut masih terjadi.
"Enggak mungkin, pasti ada. Jadi bullying itu sudah praktik-praktik yang sebetulnya sudah lama sekali ya terjadi," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masalah Sistem
Murti mengakui, sistem pendidikan di rumah sakit dan fakultas kedokteran belum begitu kuat karena belum mampu memberikan tindakan tegas.
Meski demikian, proses pencegahan melalui pengawasan mesti diperkuat di samping terus memperkuat penanganan.
"Monitoring atau pengawasan itu enggak terjadi begitu baik dari rumah sakit maupun dari fakultas kedokteran. Harusnya mereka melakukan monitor itu," tuturnya.
Dia menilai, sistem pembelajaran terhadap mahasiswa kedokteran harus terbuka termasuk jam jaga bagi mahasiswa Pendidikan Program Dokter Spesialis (PPDS). Menurutnya, transparansi akan memperkuat proses pengawasan.
"Menurut saya itu harus dilakukan. Jadi bukan semata-mata rumah sakit itu bahagia gitu ya atau senang gitu karena oh banyak (mahasiswa) PPDS. Justru kita harus bangga bahwa PPDS itu keluaran dari rumah sakit," ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!