Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Industri Perberasan Dunia Perlu Berkolaborasi Atasi Tantangan Berat

📅 Jumat, 20 Sep 2024, 10:12 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Industri Perberasan Dunia Perlu Berkolaborasi Atasi Tantangan Berat Doc: KORAN JAKARTA/ FREDERIKUS W SABINIpengusaha
Ket. DORONG KERJA SAMA | Dari kiri: Direktur Transformasi dan Hubungan Kelembagaan Perum Bulog Sonya Mamoriska, Country Director Untuk Indonesia and Timor-Leste, East Asia and Pacific World Bank Carolyn Turk, SA Rice News V. Subramanian, Director of Food Distribution and Reserves Indonesian Bapanas Rachmi Widiriani dan Direktur Bisnis Perum Bulog Febby Novita saat pembukaan Indonesia International Rice Conference (IIRC) 2024 di Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (19/9). Bulog mendorong kolaborasi pelaku industri perberasan dunia mengatasi tantangan produksi beras global.

BADUNG - Produksi beras saat ini menghadapi masalah besar sehingga bisa mengancam stabilitas dan keamanan pangan. Karena itu, pelaku industri perberasan dunia harus berkolaborasi menghadapi tantangan global tersebut.

"Hari ini, produksi beras dihadapkan pada serangkaian masalah yang berdampak luas pada komunitas lokal dan sistem pangan global. Salah satu tantangan paling mendesak adalah perubahan iklim," ungkap Direktur Transformasi dan Hubungan Kelembagaan Perum Bulog, Sonya Mamoriska Harahap, saat membuka Indonesia International Rice Conference (IIRC) 2024 di Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (19/9).

Tantangan lain, lanjut Sonya, pola cuaca yang tidak terduga, suhu yang meningkat, dan cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan mengganggu hasil panen beras di seluruh dunia. "Perubahan ini tidak hanya mengganggu sistem pertanian, tetapi juga memperparah kelangkaan air, sumber daya penting untuk budi daya beras," ujarnya dalam kegiatan yang berlangsung selama pada 19-21 September 2024.

Selain faktor lingkungan, lanjut Sonya, industri beras juga bergulat dengan ancaman biologis. Hama, penyakit, dan spesies invasif semakin sulit untuk dikelola, memberikan tekanan tambahan pada petani yang sudah berhadapan dengan kompleksitas perubahan iklim.

Tak hanya itu, volatilitas pasar, pembatasan perdagangan, dan meningkatnya biaya input seperti pupuk dan energi membuat petani semakin sulit untuk menjaga operasional yang menguntungkan. Hambatan lainnya, gangguan rantai pasok global dalam beberapa tahun terakhir telah menyoroti kerentanan sistem pangan global, dan beras tidak terkecuali.

"Ketegangan geopolitik dan konflik juga berperan dalam mengguncang pasar beras, mengganggu jalur produksi dan distribusi. Akibatnya, miliaran orang yang bergantung pada beras sebagai makanan pokok menghadapi kerentanan yang lebih besar terhadap ketidakamanan pangan," tuturnya.

Menurutnya, berbagai tantangan yang saling terkait ini menekankan perlunya pendekatan yang tangguh dan adaptif terhadap produksi beras. Karena itu, diperlukan solusi inovatif, berkelanjutan, dan kolaboratif yang dapat membantu mengatasi tantangan global ini. Salah satunya melalui gelaran IIRC oleh Perum Bulog yang diikuti ratusan pelaku industri perberasan dari 16 negara.

Terakhir, Sonya menjelaskan tantangan yang saling terkait ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan pendekatan produksi beras yang berketahanan dan adaptif. "Kita harus menyadari bahwa metode pertanian dan distribusi tradisional mungkin tidak lagi memadai dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang ini," ucap Sonya.

Dapatkan Solusi

Pada kesempatan sama, Country Director Untuk Indonesia and Timor-Leste, East Asia and Pacific, World Bank Carolyn Turk menyampaikan komoditas beras merupakan komoditas yang memenuhi kebutuhan pangan dunia, khususnya Indonesia.

"Harapan ini melalui konferensi ini kita bisa mendapatkan solusi untuk membuat keberlanjutan pangan dan kehidupan," ucap Carolyn.

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) berharap dapat kolaborasi satu sama lain antara semua pelaku di industri pangan khususnya beras, memperkuat hubungan setiap stakeholders dalam menghadapi tantangan global.

"Kami berharap kolaborasi dari Bulog dengan segala stakeholders-nya dapat memperkuat serta melalui konferensi ini bisa bekerja sama dan merumuskan ide gagasan untuk dapat menghadapi tantangan global," ucap Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas, Rachmi Widiarini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Nasional
Mentan: Stok Beras Lebih da...
Luar Negeri
Paus Sampaikan Solidaritas ...
Ekonomi
BI: Transaksi QRIS Bebas Bi...
Ekonomi
Harga BBM Pertamina, Shell,...
NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.