Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kasus Mpox Meningkat, DPR Imbau Masyarakat Perhatikan Kesehatan Anak

📅 Senin, 09 Sep 2024, 09:48 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kasus Mpox Meningkat, DPR Imbau Masyarakat Perhatikan Kesehatan Anak Doc: dpr.go.id
Ket. Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo.

JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan kondisi kesehatan anak-anaknya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut anak-anak berisiko lebih tinggi terkena penyakit Mpox (MonkeyPox) atau Cacar Monyet dalam kondisi parah dibandingkan orang dewasa.

"Walaupun bukan berarti masyarakat harus takut atau panik, tapi mengantisipasi lebih baik daripada mengobati. Pastikan anak-anak kita terjaga dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Sebisa mungkin hindari dulu tempat ramai atau kerumunan," imbau Rahmad dalam rilisnyadi Jakarta, Jumat (6/9).

Data WHO menunjukkan, rasio kematian kasus Mpox pada anak-anak di bawah usia satu tahun mencapai 8,6 persen. Ini lebih tinggi dibandingkan kematian dari 2,4 persen pasien berusia 15 tahun ke atas.

"Tapi masyarakat tidak perlu merasa cemas dan khawatir berkepanjangan karena penyakit ini bisa diobati. Ikuti informasi resmi dari Pemerintah dan perbanyak literasi mengenai Mpox seperti gejala awal dan cara penanganannya," kata Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

"Jangan gampang percaya pada informasi di media sosial yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Cari informasi dari sumber-sumber terpercaya," tambahnya.

Mengutip Save The Children, penularan Mpox terhadap anak bisa lebih cepat karena sistem kekebalan tubuhnya masih lemah. Biasanya, anak-anak mudah tertular penyakit saat di sekolah yang memiliki banyak aktivitas kontak fisik.

"Untuk melindungi anak anak dan keluarga yang mungkin terkena suspek, perlu ada perlindungan berlapis. Lingkungan pendidikan juga harus berpartisipasi melakukan upaya-upaya pencegahan virus Mpox," sebut Rahmad.

Untuk itu, Pemerintah diingatkan untuk melakukan kolaborasi dan koordinasi antara stakeholder terkait. Selain itu, menurut Rahmad, Pemerintah harus memastikan vaksin yang ada di Indonesia sudah mencukupi agar Mpox tidak mewabah di Indonesia.

"Kasus penularan Mpox pada anak-anak di Afrika menjadi pelajaran berharga buat Indonesia. DPR mendukung upaya Pemerintah yang saat ini masih fokus pada vaksinasi terhadap warga dengan risiko tinggi sembari mewaspadai kemungkinan penularan pada anak-anak," urainya.

Rahmad mengatakan, Pemerintah tidak bisa sendiri dalam menangani penyakit Mpox. Sehingga penting bagi Pemerintah untuk bekerja sama dan bergotong royong dengan pihak-pihak terkait.

"DPR juga akan terus melakukan pengawalan. Dan tentu diperlukan dukungan dari masyarakat itu sendiri dengan menjaga keluarga lewat berbagai upaya-upaya antisipasi, seperti penerapan protokol kesehatan yang ketat," tutup Rahmad.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.