“Political Will' Atasi Perubahan Iklim Masih Lemah
📅 Rabu, 28 Agu 2024, 10:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiDia menjelaskan, hal itu bermula pada 2007 saat Indonesia menjadi tuan rumah dari Conference of the Parties (COP) ke-13 di Bali. Sri Mulyani yang saat itu sudah menjadi menteri keuangan, kemudian diminta oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) United Nations Special Envoy agar menteri keuangan mulai hosting para menkeu dan menteri pembangunan untuk bicara climate change di dalam CPO meeting.
Padahal, CPO meeting yang biasanya selalu dihadiri dan menjadi agenda utama dari menteri-menteri lingkungan hidup.
Dia menuturkan waktu itu yang banyak berbicara masalah perubahan iklim hanya dari menteri lingkungan hidup, namun setiap komitmen untuk reduksi CO2, implikasi dari sisi ekonomi finansialnya sangat besar.
"Kalau para pembuat kebijakan di bidang ekonomi dan finansial tidak memahami, ya mereka hanya sebagai penonton. Di situlah muncul suatu tanggung jawab sebagai seorang menteri keuangan 'memenstreamkan' climate change di dalam pembahasan menteri-menteri keuangan," jelas Sri Mulyani.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemudian semenjak 2008, Presiden Bank Dunia saat itu, Robert B. Zoellick, mulai membangun tradisi apa yang disebut Bali 'breakfast' di setiap pertemuan tahunan Bank Dunia. Di situlah, perubahan iklim mulai menjadi agenda utama dalam menteri keuangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!