Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

“Political Will' Atasi Perubahan Iklim Masih Lemah

📅 Rabu, 28 Agu 2024, 10:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
“Political Will' Atasi Perubahan Iklim Masih Lemah Doc: ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA
Ket. REALISASI PLTS | Petugas memeriksa panel surya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (26/8). Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kuota PLTS atap untuk tahun ini hampir habis, dari kuota total 901 MW hanya tersisa sekitar 60-90 MW.

JAKARTA - Pemerintah terus mengeklaim keberhasilan RI menginisiasi gerakan mengatasi perubahan iklim. Padahal, faktanya proses transisi energi di dalam negeri stagnan.

Bahkan, pemerintah terlihat masih setengah hati dalam mendorong transisi energi. Sebab, pemerintah masih mendukung pembangunan pembangkit listrik dari energi kotor batu bara.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, membantah pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang menyebutkan Indonesia menjadi negara pertama atau inisiator yang membahas masalah perubahan iklim (climate change) dari sisi ekonomi dan finansial.

Sebenarnya, kata Bhima, isu perubahan iklim sudah dibahas sejak adanya Protokol Kyoto pada 1992 dan Conference of the Parties (COP) Pertama pada 1995 di Berlin, Jerman.

Bahkan menurut dia, sebelum itu sudah banyak kegiatan terkait kerja sama penanganan perubahan iklim. Jika ditarik sejak adanya Perjanjian Paris Agreement pada 2016, tingkat emisi karbon dan produksi batu bara Indonesia terus meningkat.

"Sampai sekarang, Indonesia belum juga menjalankan pajak karbon," ujarnya kepada Koran Jakarta, Selasa (27/8).

Hingga saat ini, papar dia, pembangunan masif pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di kawasan industri atas nama pertumbuhan ekonomi masih didukung oleh rangkaian kebijakan.

"Ini bukti pemerintah sering kali mengumbar klaim keberhasilan, padahal banyak komitmen iklim tidak dijalankan. Political will di Indonesia soal iklim masih sangat rendah," tegas Bhima.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Edy Soeparno, mengungkapkan pemerintah bersama DPR RI sangat serius mendorong transisi energi, bahkan sebagai bentuk keseriusannya pengembangan hilirisasi dari sumber daya alam (SDA) Indonesia akan terus mengedepankan sektor energi hijau. Pengembangan produksi SDA di Indonesia saat ini masuk tahap hilirisasi.

"Tentu dengan berbasis energi terbarukan, energi hijau dengan memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan hidup," ujarnya.

Bahkan, lanjut Edy, dalam rangka mengusung energi hijau tersebut, saat ini DPR RI bersama pemerintah tengah menyusun dan menyelesaikan undang-undang energi baru dan terbarukan. Hal itu sebagai komitmen Indonesia menggunakan energi lebih bersih dan berkesinambungan.

Tambahan Beban

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pada 2007 tidak ada satu pun menteri keuangan dari berbagai negara yang bicara perubahan iklim. Apalagi pada 2008, 2009 ketika dunia dihadapkan pada krisis finansial global.

"Jadi, seolah-olah climate change itu tambahan beban. Sehingga buat kita Indonesia untuk menjadi the first initiator untuk mulai mengundang para menteri-menteri keuangan dan menteri pembangunan bicara climate change," kata Sri Mulyani.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.