KDRT Tak Pandang Bulu, 'Influencer' Kerap Sembunyikan Derita Demi 'Image'
📅 Senin, 26 Agu 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim PenulisMeskipun tidak menghadapi kesulitan ekonomi, KDRT sering terjadi karena keinginan untuk mempertahankan kontrol dan dominasi dalam hubungan. Dalam kasus selebgram, kekerasan dapat digunakan oleh pasangan laki-laki sebagai cara untuk mengatasi perasaan inferioritas atau kehilangan kontrol, meskipun perempuan memiliki kekuatan finansial dan sosial yang besar.
Ini menunjukkan bahwa akar masalah KDRT sering kali terletak pada upaya mempertahankan dominasi emosional dan psikologis, bukan hanya kekuasaan fisik atau finansial.
Peran media sosial
Media sosial telah menjadi platform yang sangat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam mengungkap kasus-kasus KDRT . Di satu sisi, media sosial dapat menjadi alat yang kuat untuk mobilisasi dukungan dan meningkatkan kesadaran tentang kekerasan berbasis gender. Kasus-kasus yang dibagikan di media sosial sering kali mendapatkan perhatian luas dan memicu diskusi publik tentang pentingnya menangani KDRT secara serius.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat memperburuk situasi dengan memperkuat budaya menyalahkan korban. Misalnya, dalam beberapa kasus, korban KDRT yang berbicara di media sosial justru menerima serangan balik dari pengguna lain, yang menuduh mereka memanfaatkan situasi untuk mencari simpati atau popularitas. Ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial memiliki potensi besar untuk mendukung korban, platform ini juga bisa menjadi tempat yang tidak aman, terutama bagi mereka yang rentan terhadap serangan daring.
Penelitian menunjukkan bahwa pengguna media sosial sering kali bersikap ambivalen terhadap isu-isu yang baru atau kontroversial, yang dapat memperburuk polarisasi dan menambah beban psikologis bagi korban KDRT. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana media sosial dapat berfungsi sebagai pedang bermata dua dalam upaya untuk mendukung korban kekerasan.
Tantangan sistemis
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengatasi KDRT memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, yang mencakup perlindungan hukum yang lebih kuat serta perubahan budaya yang mendasar.
Di Indonesia, Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga(KDRT) telah diberlakukan sejak tahun 2004, namun implementasinya masih menghadapi banyak tantangan.
Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman di masyarakat tentang hak-hak korban dan mekanisme hukum yang tersedia untuk melindungi mereka. Banyak korban yang masih merasa takut untuk melapor atau mencari bantuan karena khawatir dengan stigma sosial atau tuntutan dari pelaku.
Selain perlindungan hukum, perubahan budaya juga sangat diperlukan untuk mengatasi KDRT. Edukasi publik melalui kampanye di media sosial dan media massa dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran tentang KDRT dan mendorong masyarakat untuk mengambil sikap proaktif dalam melawan kekerasan ini.
Kampanye semacam ini tidak hanya harus fokus pada korban, tetapi juga harus melibatkan pelaku dan masyarakat luas untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi mereka yang membutuhkan bantuan.
Tindakan nyata mendukung korban KDRT
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!