KDRT Tak Pandang Bulu, 'Influencer' Kerap Sembunyikan Derita Demi 'Image'
📅 Senin, 26 Agu 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock
Sry Lestari Samosir, S.Pd., M.Sos, Universitas Negeri Medan
Beberapa minggu terakhir ini, media sosial dihebohkan dengan pemberitaan seorang selebritas Instagram (selebram) yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kabar ini terhitung mengejutkan. Sebab, kehidupan yang mereka tampilkan di media sosial tampak sempurna. Persona diri menarik dengan karier yang mapan dan citra "istri salihah" membuat publik tak menyangka bahwa korban mengalami KDRT dan diselingkuhi oleh pasangannya.
Ini menunjukkan bagaimana KDRT bisa terjadi pada siapa saja, tidak pandang bulu, termasuk influencer media sosial. Sebelumnya, kasus KDRT seringkali dianggap hanya terjadi pada keluarga dengan status sosial tertentu dan kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Kasus-kasus KDRT, termasuk perselingkuhan, mengungkapkan bahwa visibilitas publik tidak selalu menawarkan perlindungan dari kekerasan berbasis gender. Data dari Komnas Perempuan pada tahun 2023 mencatat lebih dari 339 ribu kasus kekerasan berbasis gender, dengan 99% di antaranya terjadi di ranah domestik. Ini menunjukkan bahwa KDRT adalah masalah serius yang meluas di seluruh lapisan masyarakat apapun kelas sosialnya.
Persona publik vs derita pribadi
Sebaiknya Anda baca juga:
Di media sosial, para influencer sering kali tampil dengan citra kehidupan yang glamor dan penuh kesuksesan. Namun realitas di balik layar bisa sangat berbeda. Pengalaman pribadi yang menyakitkan, seperti KDRT, sering kali tersembunyi di balik citra publik mereka. Ini menciptakan kontras yang tajam antara kehidupan online dan realitas offline.
Dalam banyak kasus, para publik figur kerap menghadapi tantangan besar dalam mengelola persona publik sekaligus menghadapi kekerasan yang mereka alami dalam rumah tangga. Ini juga tampak dalam kasus viral influencer yang menyoroti kontras antara citra kekuatan dan popularitas yang mereka tampilkan dengan kenyataan pahit yang harus mereka hadapi dalam kehidupan pribadi mereka.
Tekanan sosial, profesional, serta ketakutan akan hilangnya dukungan pengikut dan sponsor membuat mereka menyembunyikan kenyataan pahit tersebut. Ironisnya, citra ideal yang diproyeksikan justru memperburuk situasi mereka, menambah beban psikologis, dan memengaruhi pengikut dengan standar kehidupan yang tidak realistis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, beberapa selebgram memilih berbicara terbuka tentang pengalaman mereka, yang tidak hanya memberdayakan diri sendiri tetapi juga membantu memecahkan stigma dan mendukung korban lain dalam situasi serupa.
Ketimpangan gender tidak kenal kelas sosial
Perspektif feminis sangat relevan dalam memahami bagaimana KDRT tidak bisa dipisahkan dari dinamika kekuatan gender yang tidak seimbang. Kekerasan berbasis gender tidak hanya terjadi di "rumah-rumah biasa", tetapi juga di kalangan mereka yang terlihat kuat dan berpengaruh di mata publik.
Teori feminisme menyoroti bahwa KDRT adalah hasil dari ketidaksetaraan gender yang mendalam dan struktur patriarki yang memperkuat posisi dominan laki-laki atas perempuan.
Di Indonesia, perempuan masih sering menjadi korban utama KDRT, meskipun ada juga kasus ketika perempuan menjadi pelaku. Namun, dalam banyak kasus, pelaku KDRT adalah suami, pasangan, atau anggota keluarga laki-laki lainnya, yang memiliki kekuasaan lebih besar dalam rumah tangga.
Ketimpangan ini sering kali diperkuat oleh norma-norma sosial yang mengakar misalnya norma agama, yang membuat korban merasa sulit untuk melawan atau mencari bantuan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!