Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pakar UI Ingatkan Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Manusia

📅 Minggu, 25 Agu 2024, 11:38 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pakar UI Ingatkan Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Manusia Doc: ANTARA/Prisca Triferna
Ket. Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus Ketua Research Center for Climate Change (RCCC) UI Budi Haryanto (tengah) dalam diskusi Indonesia Net-Zero Summit yang diadakan di Jakarta, Sabtu (24/8/2024).

JAKARTA - Ketua Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI) Budi Haryanto mengingatkan fenomena perubahan iklim yang memberikan dampak kepada lingkungan juga akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia, termasuk berpengaruh terhadap tren penyakit.

Dalam diskusi sebagai bagian dari Indonesia Net-Zero Summit di Jakarta, Sabtu (25/8), Budi Haryanto menjelaskan bahwa perubahan iklim yang disebabkan beberapa faktor termasuk kerusakan lingkungan dan ekosistem pada akhirnya akan berdampak kepada kehidupan manusia, termasuk dalam bidang kesehatan.

"Paling akhir itu menimpanya ke kita semua. Banyak penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti demam berdarah, malaria dan sebagainya," kata Guru Besar UI itu.

Dia menjelaskan bahwa perubahan iklim juga memiliki kaitan dengan maltnutrisi dan stunting, ketika terjadi gangguan terhadap produksi pangan akibat fenomena tersebut.

Secara khusus, dia menyoroti empat jenis penyakit terkait perubahan iklim yang dapat ditemukan di Indonesia yaitu demam berdarah, malaria, gangguan saluran napas, dan diare.

"Semua trennya itu naik terus, demam berdarah naik terus, malaria naik terus, penyakit saluran napas naik terus. Semuanya terbukti dari hasil riset yang dilakukan di seluruh dunia maupun yang juga kita terlibat dalam penelitian tersebut, itu semua efek dari perubahan iklim," ujarnya.

Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan pada 27 Juni 2024, angka kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) pada pekan ke-25 tahun 2024 adalah 869 kasus. Sementara total kematian pada 2023 adalah 894 kasus.

Adapun untuk kasus DBD, per akhir Juni 2024 terdapat 146 ribu kasus dibandingkan pada 2023 terdapat sekitar 114 ribu kasus. Sementara itu sebaran kasus DBD terbanyak pada 2023 dan 2024 berada di wilayah padat penduduk, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Bali.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Nasional
Jepang Kirim Chinook Bantu ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.