Rumania Keluarkan Peringatan Panas Ekstrem dan Cuaca Buruk
📅 Jumat, 23 Agu 2024, 00:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: AFP/DANIEL MIHAILESCU
BUCHAREST - Peringatan terkait gelombang panas ekstrem dan ketidakstabilan atmosfer di seluruh Rumania dikeluarkan pada Rabu (21/8), dengan Bucharest mengalami suhu hingga 39 derajat Celsius selama tiga hari ke depan.
Mulai Rabu hingga Jumat (23/8) pagi waktu setempat, warga Ibu Kota Rumania tersebut akan mengalami rasa ketidaknyamanan karena termal (thermal discomfort) yang tinggi, menurut Administrasi Meteorologi Nasional (National Meteorological Administration/ANM) Rumania. Indeks suhu-kelembapan (temperature-humidity index/THI) juga diperkirakan akan melampaui 80 unit.
Seperti dikutip dari Antara, gelombang panas itu akan bergerak ke arah selatan pada Kamis (22/8), dengan badai yang berdampak terhadap daerah Utara dan Barat.
Pada Rabu, peringatan panas Kode Oranye diberlakukan di Crisana utara, Maramures, Transylvania tengah dan barat laut, Moldova timur laut, serta Muntenia selatan dan tengah.
Selain itu, 11 kabupaten di Banat, Crisana, Maramures, dan Transylvania berada di bawah peringatan Kode Kuning terkait ketidakstabilan atmosfer hingga Kamis malam waktu setempat. Hujan deras, angin kencang, badai petir, dan hujan es terisolasi (isolated hail) diprediksi akan terjadi, dengan akumulasi air berpotensi melampaui 50 liter per meter persegi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saran Dokter
ANM mengatakan gelombang panas akan berlanjut di daerah selatan dan tenggara hingga akhir minggu, menyebar ke sebagian besar negara lainnya. Para dokter menyarankan agar pasien penderita penyakit kronis dan warga lanjut usia menghindari paparan sinar matahari berkepanjangan, serta membatasi konsumsi minuman yang mengandung kafein selama gelombang panas melanda.
Sebuah studi baru memperingatkan kematian akibat cuaca panas ekstrem di Eropa diperkirakan melonjak tajam dalam beberapa dekade mendatang, berpotensi menambah 55.000 kematian setiap tahunnya pada 2100.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keadaan itu bisa terjadi jika tidak ada tindakan signifikan dalam memerangi perubahan iklim, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Public Health pada Kamis.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan peningkatan itu akan menandai kenaikan 13,5 persen pada kematian terkait suhu. Gambaran itu jauh berbeda dibandingkan dengan jumlah kematian terkait cuaca dingin, yang diperkirakan menurun.
Saat ini, suhu ekstrem di Eropa menyebabkan sekitar 407.500 kematian setiap tahun. Suhu dingin menjadi penyebab utamanya. Antara 1991 dan 2020, rata-rata terjadi 364.000 kematian setiap tahun akibat cuaca dingin, sedangkan cuaca panas menyebabkan 44.000 kematian.
Kematian akibat cuaca dingin secara historis lebih tinggi di Eropa bagian timur, sementara Eropa selatan mengalami lebih banyak kematian akibat cuaca panas ekstrem. Namun, kecenderungan itu diperkirakan akan berbalik seiring dengan pemanasan Bumi yang terus berlanjut.
Studi tersebut menyoroti Eropa selatan dan wilayah-wilayah yang banyak berpenduduk lanjut usia akan menjadi yang paling rentan terhadap frekuensi gelombang panas yang mematikan.
Sebelumnya, suhu di seluruh Jepang meningkat melampaui 35 derajat Celsius pada Minggu (18/8). Pihak berwenang mengeluarkan peringatan ketat terkait risiko sengatan panas (heatstroke) dan mendesak warga untuk mengambil tindakan pencegahan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!