Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Apa Hewan Pertama yang Hidup di Bumi?

📅 Kamis, 22 Agu 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Apa Hewan Pertama yang Hidup di Bumi? Doc: afp/ JEAN-BERNARD CARON

Dengan menggunakan bukti fosil dan penanggalan genetik, para ahli genetika dan paleontologi telah mendukung kandidat yang sangat berbeda untuk hewan pertama di dunia.

Saat ini Bumi adalah rumah bagi hewan dalam berbagai bentuk dan ukuran, dari makhluk yang mikroskopis sepertitardigradahingga paus biru yang memiliki ukuran panjang hingga 25 meter. Semua makhluk ini telah muncul dan berevolusi selama jutaan tahun evolusi.

Namun, apa hewan pertama di planet ini? Jawaban atas pertanyaan ini sangat diperdebatkan oleh para ilmuwan.

Puluhan penelitian berbeda yang menggunakan segala hal mulai dari evolusi kromosom dari waktu ke waktu hingga fosil purba telah mengelompokkannya menjadi dua kandidat: spons dan ubur-ubur sisir.

Beberapa informasi terbaik tentang hewan purba berasal dari fosil yang berasal dari periode Kambrium, yang dimulai sekitar 541 juta tahun yang lalu. Selama waktu ini, Bumi mengalami ledakan spesies baru selama ledakan Kambrium dimana hanya dalam 10 juta tahun ratusan ribu spesies hewan tiba-tiba muncul.

Hampir setiap jenis bentuk tubuh hewan yang ada saat ini berevolusi selama ledakan Kambrium, termasuk arthropoda awal, moluska, dan bahkan chordata, yang kemudian memunculkan vertebrata atau hewan bertulang belakang.

Spesimen yang diawetkan dengan sangat baik dari formasi batuan yang dikenal sebagai Burgess Shale di British Columbia, Amerika Serikat, memberi gambaran tentang seperti apa rupa hewan-hewan yang muncul pada awal kehidupan.

Namun, semua spesies tersebut tidak muncul begitu saja. Pada tahun 1950-an, fosil yang ditemukan sebelumnya diidentifikasi sebagai sisa-sisa hewan dari periode Ediakaran, yang berlangsung dari sekitar 635 juta tahun yang lalu hingga awal Kambrium 541 juta tahun yang lalu.

Tidak seperti rangka luar keras yang ditemukan di banyak fosil Kambrium, hewan yang hidup selama Ediakaran sebagian besar adalah hewan bertubuh lunak dan berbentuk gumpalan seperticnidariakelompok yang mencakup hewan seperti ubur-ubur dan anemon laut cacing, dan mungkin spons.

Jaringan lunak sangat sulit diawetkan karena lebih mudah rusak daripada tulang atau rangka luar. Ini berarti bahwa sisa-sisa fosil hewan Ediakaran tidak hanya sedikit, tetapi juga jauh lebih sulit untuk diurai. Mungkin yang paling terkenal di antaranya adalah hewan mirip cacing yang disebutDickinsonia, yang tampak seperti piring makan besar dengan ruas-ruas bergaris yang berasal dari bagian tengahnya.

Sebelum itu, keadaan mulai menjadi tidak jelas. "Di luar (Ediakaran), tidak ada yang benar-benar mencari tahu," ujar Elizabeth Turner, seorang paleobiolog di Laurentian University di Ontario, mengatakan kepadaLive Science.

Sebagian dari masalahnya, jelas dia, adalah bahwa para ilmuwan tidak benar-benar tahu apa yang harus dicari. "Kita adalah primata; kita melakukan pengenalan pola," kata Turner. Menurut dia fosil hewan paling awal mungkin memiliki sedikit atau tidak ada pola yang dapat dikenali.

Turner menyajikan apa yang diusulkan sebagai hewan tertua yang diketahui spesimen fosil dari apa yang dia katakan sebagai spons berusia 890 juta tahun dalam sebuah makalah tahun 2021 di jurnalNature. Namun, tidak semua orang setuju dengan hipotesisnya.

Metode Baru

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.