Apakah Binatang Tardigrada Memang Tidak Dapat Dihancurkan?
📅 Rabu, 24 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Thomas Shahan/Wikimedia
Tardigrada adalah binatang kecil berukuran mikroskopis. Yang mengagumkan hewan mikroskopis ini dapat bertahan hidup dalam beberapa kondisi paling ekstrem di Bumi, termasuk suhu beku, tekanan yang sangat tinggi, dan bahkan ruang hampa tanpa oksigen.
Tardigrada (tardigrade) yang juga sering disebut beruang air atau anak babi lumut, adalah hewan akuatik yang memiliki ukuran dalam skala mikroskopis dengan bentuk tubuh gemuk dan bersegmen serta kepala yang pipih. Hewan ini memiliki delapan kaki, masing-masing berujung dengan empat hingga delapan cakar atau jari, dan agak menyerupai ulat yang menghisap hookah seperti yang terlihat dalam film besutan Disneyland yaitu Alice in Wonderland.
Meskipun tardigrada sangat lucu namun hampir tidak bisa dihancurkan dan bahkan hewan ini dapat bertahan hidup di luar angkasa.
Tardigrada ditemukan pada tahun 1773 oleh ahli zoologi Jerman bernama Johann August Ephraim Goeze. Ia menjuluki temuannya ini dengan sebutan "beruang air kecil". Tiga tahun kemudian, ahli biologi Italia, Lazzaro Spallanzani, menamai hewan itu tardigrada atau "penginjak lambat".
"Dinamakan tardigrada karena gaya berjalannya yang seperti anak kecil," ungkap Pusat Sumber Daya Pendidikan Sains di Carleton College (SERC).
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat ini, ada sekitar 1.300 spesies tardigrada yang diketahui dalam filum Tardigrada dalam kategori klasifikasi menurut Sistem Informasi Taksonomi Terpadu (Integrated Taxonomic Information System /ITIS).
Hewan tersebut memiliki strategi yang tidak biasa untuk bertahan hidup dalam kondisi yang keras. Mahluk hidup ini memasuki kondisi yang hampir seperti kematian yang disebut kriptobiosis dengan mengeluarkan lebih dari 95 persen air dari tubuh mereka, menarik kepala dan kaki mereka, dan meringkuk menjadi seperti tong yang kering.
Pada tahun 1970-an, para ilmuwan menentukan bahwa berbagai bentuk kriptobiosis pada tardigrada dapat disebabkan oleh empat pemicu lingkungan. Pertama pengeringan, kedua pembekuan, ketiga kekurangan oksigen, dan keempat kelebihan garam, menurut laporan sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports.
Selama kriptobiosis, aktivitas metabolisme tardigrada turun hingga 0,01 persen dari tingkat normal. Sel-selnya dilindungi dari kerusakan oleh protein yang larut dalam air yang unik bagi tardigrada, yang dikenal sebagai protein tardigrada yang tidak teratur atau TDP.
Ketika tardigrada mengeluarkan air dari tubuhnya, molekul TDP membentuk kepompong yang kuat seperti kaca di sekitar sel. Hal ini menjaga materi seluler tetap aman saat tardigrada berada di dalam tong dan memungkinkannya untuk hidup kembali di air ketika kondisinya lebih bersahabat, menurut sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Cell.
"Tardigrada adalah makhluk kecil yang menarik," kata Sandra McInnes, seorang peneliti tardigrada di British Antarctic Survey, yang telah mempelajari spesies yang hidup di bentang alam bersalju beku Antartika sejak 1980, sebelumnya mengatakan kepada Live Science.
"Tardigrada memiliki kemampuan untuk mengatasi lingkungan ekstrem dengan menghentikan metabolismenya. Kemampuan untuk mengatasi kekeringan atau pembekuan inilah yang membuat mereka tahan lama di Antartika," papar McInnes.
Meski hampir tidak dapat dimusnahkan, tardigrada memiliki kelemahan fatal. Hewan ini layu karena panas. Perubahan iklim terus berlanjut yang meningkatkan suhu udara dapat mengakibatkan hewan kecil ini mengalami hal demikian.
Sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menemukan bahwa tardigrada yang berada dalam suhu air sekitar 100 derajat Fahrenheit (37,8 derajat Celsius) dapat mati hanya dalam satu hari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!