Mantan Buruh Migran Asal Kupang Ini Bangkit Menjadi Cahaya
📅 Selasa, 23 Jul 2024, 00:18 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA
Kupang - Mata Mariance Kabu (43), eks buruh migran asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, itusesekali terpejam. Napasnya menjadi lebih berat saat mengingat peristiwa kelam yang dia alami sepuluh tahun lalu di Malaysia.
Berbagai siksaan dialami oleh Mariance selama bekerja sebagai pembantu rumah tangga dari majikannya, Ong Su Peng Serene dan Sang Yoke Leng, di Kuala Lumpur pada medio April--Desember 2014.
Dari gigi dicabut menggunakan tang, bibir dipukul sampai robek, hingga telinga dipukul dan ditarik telah dirasakan oleh Mariance dari tangan majikannya. Bahkan, lukanya membekas permanen hingga kini.
Ia akhirnyaberhasil terbebas dari apartemen majikannya. Mariance menuliskan pesan di secarik kertas, "Tolong keluarkan saya dari sini. Saya hampir mati karena dianiaya majikan". Kertas yang Mariance lempar keluar apartemen majikannya itu dibaca oleh salah seorang tetangga. Dengan bantuan tetangganya itulah Polisi Diraja Malaysia turun tangan membebaskan Mariance dari perlakuan kejam dari majikannya itu.
"Saya tak akan bisa melupakan peristiwa itu sampai mereka (majikan Mariance) dihukum setimpal dengan perbuatan mereka," kata Mariance.
Sepuluh tahun berlalu. Kini di tengah penantian panjang pada akhir sidang kasus penganiayaan berat terhadap dirinya, Mariance berusaha bangkit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Butuh waktu lama bagi ibu empat anak itu untuk keluar dari ruang gelap hidupnya. Selama 8 tahun,Mariance lebih banyak berdiam di rumah. Rasa kecewa, ketakutan, kurang percaya diri bercampur jadi satu membuat ia lebih memilih mengasingkan diri dari dunia luar.
Namun, sejak kasusnya kembali dibuka di Pengadilan Malaysia pada 2022, keberanian Mariancemencuat. Seolah mendapatkan bisikan dari Tuhan, dia bangkit keluar dari ruang gelap dengan membawa cahaya.
Sebuah kredo (keyakinan) Kristiani akan pengorbanan Yesus untuk manusia saat disiksa dan disalib, menuntun Mariance untuk berbuat lebih banyak bagi masyarakat, khususnya di daerah asalnya Nusa Tenggara Timur.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya harus bersuara agar orang lain tidak mengalami seperti yang saya alami," kata Mariance.
Sejak saat itu Mariance memilih aktif terlibat upaya pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPP0) dan kekerasan terhadap buruh migran. Sudah 2 tahun terakhir ini, dia hadir di berbagai pertemuan dan forum diskusi untuk menceritakan pengalamannya saat menjadi korban TPPO dan kekerasan saat bekerja di Malaysia.
Tak cukup dengan bersuara, Mariance pun juga berupaya pada pencegahan TPPO di daerahnya dengan memberikan pelatihan menenun khas NTT kepada kalangan perempuan. Dia secara berkala melakukannya di rumah Pendeta Emmy Sahertian, salah satu orang yang membantu mengadvokasi kasusnya.
Dengan memiliki ketrampilan Mariance berharap para perempuan di NTT bisa lebih mandiri dan tidak mudah tergoda bujuk rayu jaringan mafia TPPO.
Dari kegiatan tersebut pula Mariance juga telah menciptakan motif tenun mamulisambung yang memiliki makna mendalam tentang perjuangannya menyuarakan perlawanan terhadap TPPO.
"Saya terinspirasi dengan motif mamuli khas Timor yang memiliki arti rahim ibu," kata Mariance. Dua motif mamuli yang disambung itumemiliki arti para kaum perempuan yang bersatu untuk bersama melawan kejahatan TPPO yang marak terjadi di NTT maupun sejumlah daerah lain di Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!