Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pertumbuhan Populasi Memicu Arus Perpindahan

📅 Rabu, 17 Jul 2024, 06:25 WIB | Oleh:
Pertumbuhan Populasi Memicu Arus Perpindahan Doc: afp/ SAM YEH

Para migran menyeberangi lautan Indo-Pasifik selama ratusan tahun untuk menetap di Asia tenggara, Oseania, dan Madagaskar. Beberapa sejarawan memperkirakan mereka melakukan perjalanan hingga ke Amerika.

Disebut sebagai ekspansi Austronesia, peristiwa ini menyebarkan bahasa, budaya, dan teknologi masyarakat penutur bahasa Austronesia ke bagian dunia yang baru. Populasi baru mengubah demografi dan lingkungan daerah ini secara permanen dengan cara yang masih dapat disaksikan hingga saat ini.

Teori dominan ekspansi Austronesia dimulai di Taiwan. Model ini dikaitkan dengan pendapat arkeolog Peter Bellwood dan ahli bahasa Robert Blust yang dikemukakan sekitar tahun 1980.

Penduduk asli Taiwan pertama kali berlayar dari Taiwan ke pulau-pulau utara Filipina sekitar tahun 3000 SM, hanya 1.000 tahun setelah mereka bermigrasi dari daratan Tiongkok ke Taiwan. Untuk memfasilitasi migrasi skala besar ini, orang Austronesia mengembangkan teknologi pelayaran dan metode navigasi baru yang masih digunakan hingga saat ini.

Teknologi kapal dan navigasi itu memungkinkan mereka untuk melakukan perjalanan jarak jauh melintasi Indo-Pasifik dan sekitarnya, menetap di pulau-pulau dan daratan di seluruh belahan bumi. Dari Luzon, sekelompok migran bergerak lebih jauh ke selatan untuk mencakup seluruh Filipina, Kalimantan, dan Indonesia. Sementara itu yang lain pindah ke barat ke Asia tenggara dan mencapai sejauh Madagaskar.

Sekitar tahun 1500 SM, kelompok lain pindah ke timur untuk menetap di pulau-pulau kecil di Pasifik. 500 tahun kemudian, orang Austronesia menjadi orang pertama yang menetap di pulau-pulau terpencil Palau dan Yap di Oseania dan melanjutkan perjalanan ke selatan ke daerah-daerah di sekitar Kepulauan Solomon.

Lebih dari 1.000 tahun setelah migrasi massal pertama melintasi Pasifik, gelombang migrasi kedua terjadi. Para migran melakukan perjalanan melintasi lautan sekali lagi untuk mencapai Tahiti, Hawaii, dan New Zealand. Beberapa berpendapat gelombang migrasi kedua melampaui pulau-pulau ini, mencapai Amerika selatan dan mungkin Afrika, Eropa, dan Amerika utara.

Sebagian besar bukti yang mendukung Ekspansi Austronesia bersifat linguistik. Pada akhir 1970-an, ahli bahasa Robert Blust dari Universitas Hawaii membela teori tersebut dengan memecah kelompok bahasa Proto-Austronesia menjadi beberapa subdivisi dan menghubungkan divisi-divisi ini kembali ke Taiwan.

Setiap subkelompok bahasa Proto-Austronesia diciptakan pada tahap migrasi yang berbeda, saat kelompok-kelompok baru pindah ke pulau-pulau baru dan menetap di sana. Blust juga menghubungkan kata-kata tertentu dalam berbagai bahasa Austronesia kembali ke kondisi lingkungan di Taiwan, membantah asumsi sebelumnya bahwa bahasa Austronesia berasal dari Vietnam atau Kamboja.

Studi arkeologi di wilayah Indo-Pasifik menambahkan bukti lebih lanjut untuk mendukung jalur migrasi. Para ilmuwan mengaitkan masuknya babi, ayam, dan tikus Pasifik dengan ekspansi Austronesia, serta berbagai spesies tanaman seperti murbei kertas, talas, dan kelapa. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.