Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kerja Sama Energi Terbarukan dengan Tiongkok Penting untuk RI

📅 Selasa, 16 Jul 2024, 20:54 WIB | Oleh:
Kerja Sama Energi Terbarukan dengan Tiongkok Penting untuk RI Doc: istimewa
Ket. Potensi kerja sama Indonesia dan Tiongkok di bidang energi bersih cukup luas dan didukung komitmen terhadap energi hijau dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI).

JAKARTA - Bukan hanya menjadi mitra utama dalam kerja sama ekonomi, para pakar dari Indonesia memandang Tiongkok memiliki peluang memainkan peran penting membantu Indonesia dalam transisi menuju energi bersih dan merealisasikan target penurunan emisi karbon di masa depan.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services and Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengatakan, industri energi terbarukan telah berkembang pesat di Tiongkok. Hal ini tentunya menguntungkan negara lain, termasuk Indonesia karena biaya teknologi untuk transisi energi menjadi lebih terjangkau.

"Keberhasilan Tiongkok mengembangkan energi terbarukan melalui kombinasi standar dan tata kelola yang ketat bisa menjadi contoh bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia," kata Fabby dalam wawancara dengan Xinhua, belum lama ini.

Pertama, tambah Fabby, Tiongkok membantu Indonesia membangun pembangkit energi terbarukan melalui kemampuannya dalam pembangunan yang tidak hanya memiliki kualitas bagus, namun juga waktu yang cepat dan biaya yang murah. Salah satu contoh suksesnya adalah peran PowerChina dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata yang menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara.

Pasar Indonesia

Kedua, Tiongkok perlu membantu mengembangkan industri energi terbarukan di Indonesia. Fabby mengharapkan agar perusahaan-perusahaan Tiongkok bisa menjangkau pasar Indonesia dengan membangun pabrik lokal. Contohnya industri panel surya yang sangat dibutuhkan untuk menunjang program transisi energi Indonesia beberapa tahun mendatang.

Ketiga, dtambah dia, ukungan Tiongkok dari sisi pembiayaan diberikan baik kepada proyek-proyek yang dikerjakan BUMN maupun swasta. Lembaga keuangan asal Tiongkok diharapkan bisa membantu menutup kesenjangan pembiayaan yang cukup besar untuk transisi energi di Indonesia.

Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 32 persen pada 2030, sementara target net zero emission ditargetkan pada 2060 atau lebih cepat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.