Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tanpa Ketahanan Pangan dan Energi, APBN Terus Tersandera Utang dan Subisidi

📅 Senin, 15 Jul 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tanpa Ketahanan Pangan dan Energi, APBN Terus Tersandera Utang dan Subisidi Doc: Sumber: Kementerian Keuangan - Litbang KJ/and - kj

JAKARTA - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus tersandera utang dan subsidi jika pemerintah tidak punya keberanian mengupayakan ketahanan pangan dan energi. Sedikit gejolak harga minyak dunia saja dan kurs rupiah yang melemah seperti saat ini, maka biaya pembayaran cicilan dan bunga utang akan melonjak. Selain itu, dengan kurs rupiah yang merosot mengakibatkan biaya subsidi yang membengkak.

Direktur Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan situasi APBN perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Anggaran untuk belanja semakin naik, apalagi banyak program membutuhkan anggaran besar tahun depan. Sementara penerimaan pajak juga menantang karena daya beli melemah dan permintaan ekspor berkurang.

Alarm fiskal, jelasnya, terus berbunyi karena pemerintah cuma mengandalkan utang untuk menutup pelebaran defisit APBN.

"Jika gali lubang tutup lubang semakin dalam, konsekuensinya adalah kredibilitas fiskal turun dan bunga yang harus dibayar akan naik. Peringkat utang Indonesia sedang dipertaruhkan, dan hati-hati, tahun depan bayar bunga makin mahal," tegas Bhima.

Rektor Universitas Airlangga, Mohammad Nasih, yang ditemui baru-baru ini, mengatakan pembayaran utang pokok dan bunganya jelas membebani APBN. Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah mengajukan keringanan dan penundaan pembayaran bunga demi memperkuat realisasi program pembangunan yang nyata.

"Pasti terbebani. Kita meniru Amerika saja. Amerika utangnya banyak, tapi mereka berani minta keringanan pada negara-negara donornya. Kalau tidak begitu, susah. Atau minta semacam penangguhan, kalau tidak begitu, tidak bisa," kata Nasih.

Saat ini, kata Nasih, semua pihak sedang menunggu hasil dari pembangunan jalan tol yang kemarin investasi besar-besaran, tapi sekarang belum muncul hasilnya.

"Tapi kalau nanti dari hasil pembangunan tol itu bisa sangat produktif, menggerakkan ekonomi, ya bagus. Karena bisa menutup utang. Itu pilihan. Tapi memang belum terlihat, menunggu pemulihan ekonomi dan lain-lain, baru bisa dikatakan produktif. Butuh waktu," katanya.

Pada kesempatan lain, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menegaskan dengan melihat ancaman semakin tersanderanya APBN oleh utang dan impor maka sudah menjadi keharusan pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan.

"Ini bukan hal tidak mungkin, tetapi sudah pernah terjadi pada tahun 1984. Food security sangat penting, karena pangan yang dicukupi lewat impor, berarti pangan kita bergantung pada negara lain, sangat berbahaya," kata Esther.

Apalagi negara tersebut mengalami food shortage, otomatis mereka tidak akan menjual bahan pangan ke negara lain, sementara Indonesia sudah tergantung sehingga ada kemungkinan bisa mendapat bahan pangan dari negara lainnya, tapi dengan harga yang sangat tinggi. Dampaknya harga pangan domestik lebih tinggi lagi dan mengakibatkan inflasi.

"Jadi, swasembada pangan akan menjaga stabilitas harga dan stabilitas nilai tukar karena kita tidak perlu menggunakan valuta asing (valas) seperti dollar AS untuk impor pangan," ungkap Esther.

Memicu Inflasi

Ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menyampaikan bahwa kenaikan harga subsidi energi akan berdampak signifikan terhadap ekonomi masyarakat menengah ke bawah, sehingga pemerintah sebisa mungkin harus menghindari kondisi tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
BRI Super League 2026/2027: Persija Jakarta Kalahkan Persib Bandung 2-1 di GBK

BRI Super League 2026/2027: Persija Jakarta Kalahkan Persib Bandung 2-1 di GBK

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.