Dari Mana Asal Mula Malaria?
📅 Rabu, 26 Jun 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: afp/ CHANDAN KHANNA
Malaria masih menjadi ancaman bagi manusia dari dulu hingga sekarang. Hasil penelitian dengan mengekstraksi DNA parasit dari gigi dan tulang yang terawetkan di alam, mengungkap bagaimana malaria menyebar ke seluruh dunia.
Para peneliti melakukan studi DNA dari tulang dan gigi kerangka manusia dari pegunungan Himalaya. Kerangka ini dari seorang laki-laki diperkirakan meninggal karena penyakit malaria sekitar 2.800 tahun yang lalu di dataran tinggi yang suhu udaranya sangat dingin itu.
Lokasi tempat jasadnya ditemukan terletak 2.773 meter atas permukaan laut dan berada di lingkungan berbatu dan kering. Kondisi ini dinilai terlalu dingin untuk hidup nyamuk Anopheles yang menyebarkan penyakit tersebut.
"Itu adalah tempat terakhir di Bumi yang saya perkirakan akan menemukan infeksi malaria," kata Megan Michel, seorang ahli biologi evolusi di Universitas Harvard dan Institut Max Planck untuk Geoantropologi di Jerman mengatakan kepada Harvard Gazette.
Temuan ini terungkap sebagai bagian dari studi baru yang dipimpin oleh Michel dan diterbitkan pada Rabu (12 Juni) di jurnal Nature yang mengungkap sejarah malaria. Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini sangat umum saat ini dan setiap tahunnya menginfeksi 250 juta orang dan membunuh 600.000 orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penyakit ini menjadi sangat terkait dengan perkembangan genom atau keseluruhan deoxyribonucleic acid (DNA) yang ada dalam suatu sel, berisi seluruh sekuens DNA secara utuh manusia. Namun, penyakit seperti malaria biasanya tidak meninggalkan jejak fisik pada sisa-sisa purba sehingga sulit dideteksi.
"Malaria tidak terlihat secara arkeologis," kata rekan penulis studi Christina Warinner, seorang arkeogenetika di Universitas Harvard, kepada laman Science.
Namun dengan teknik baru untuk menganalisis sampel genetik, para peneliti berhasil menemukan fragmen DNA parasit yang sangat kecil yang telah terdapat di tulang dan gigi korban malaria. Bukan hanya di pegunungan Himalaya saja, tim juga telah menemukan jasad 36 orang yang telah terinfeksi malaria di 26 situs arkeologi di lima benua.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, bukti fisik tertua dari penyakit ini berasal dari sampel darah yang dikumpulkan di Delta Ebro Spanyol pada 1944. Penelitian terbaru ini secara dramatis mendorong waktu lebih lama hingga 5.600 tahun yang lalu ketika temuan kerangka tertua di Jerman dengan derita malaria terdeteksi. Hingga saat ini, satu-satunya sumber informasi tentang sejarah malaria sebelum abad ke-20 berasal dari catatan tertulis.
"Sebelumnya sudah ada deskripsi dalam teks Yunani dan Romawi yang menunjukkan keberadaan malaria," kata Michel kepada Harvard Gazette. "Namun, kami dapat menelusuri lebih jauh lagi untuk menunjukkan bahwa malaria telah ada di Eropa sejak lama sekali," imbuh dia dikutip dari laman Smithsonian.Mag.
Sisa-sisa kerangka manusia Nepal ditemukan di Lembah Kali Gandaki, dekat rute perdagangan kuno yang melintasi Himalaya. Situs arkeologi tersebut juga ditemukan benda-benda tembaga yang diproduksi di dataran rendah India, tempat nyamuk dan malaria biasa ditemukan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa pria tersebut terinfeksi saat bepergian lalu ia kembali ke rumah asalnya dan meninggal dalam perjalanan. "Dengan kumpulan data yang sangat besar ini, kita dapat memperkecil tampilan dan melihat sejarah evolusi yang panjang serta juga memperbesar tampilan dan mempelajari nasib satu individu," kata Alexander Herbig , rekan penulis studi yang juga seorang ahli genomik patogen di Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Jerman, kepada Science.
Evolusi
Menghubungkan kisah-kisah individu tersebut dengan sejarah evolusi malaria yang panjang menghasilkan beberapa temuan penting. Sampel yang mengandung genom Plasmodium vivax, parasit penyebab malaria, terdeteksi di seluruh Eropa sepanjang rentang sejarah yang panjang, dari Zaman Batu hingga abad ke-18, yang menunjukkan bahwa pada era prasejarah, sehingga malaria bukan sekadar penyakit tropis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!