Mengapa Sampah Plastik Harus Didaur Ulang? Ini Jawabannya
📅 Jumat, 21 Jun 2024, 08:45 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SMenurut para ahli, jumlah tersebut meningkat sebesar 59 kali lipat selama 1990 hingga 2018. Tak hanya itu, tingkat konsumsi mikroplastik masyarakat Indonesia bahkan mengalahkan Amerika Serikat (AS) yang "hanya" sekitar 2,4 gram per bulan.
Sebelumnya, Riset Departemen Perikanan dan Akuakultur FAO, menyebutkan berikut beberapa bahaya mikroplastik untuk Kesehatan, yaitu: (1) Dicurigai mengganggu sistem endokrin. Zat aditif dalam plastik dicurigai bisa mengganggu sistem endokrin atau hormonal dalam tubuh. (2) Banyak bahan makanan yang berbahaya. (3) Diduga mengganggu kekebalan tubuh. Tingginya intensitas paparan mikroplastik dalam jangka panjang dapat memicu perubahan hormonal yang berdampak pada kematian sel, kerusakan dinding sel, bahkan kerusakan organ dalam tubuh.
Cara mengurangi mikroplastik sebagai berikut: 1) Batasi konsumsi makanan laut. Konsentrasi mikroplastik paling tinggi umumnya ditemukan pada makanan laut, terlebih kerang. 2) Konsumsi makanan segar. 3) Hindari penggunaan plastik sekali pakai. 4) Gunakan botol air kaca atau stainless steel. 5) Rutin membersihkan rumah. (hellosehat.com). 6) Rumah sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) sampah perbanyak tanam pohon.
Sampah plastik karena banyak jenisnya maka harus disortir sesuai jenis dan warnanya. Berbagai jenis plastik yang dipungut dan dikumpulkan pemulung diantaranya: Polyethylene Terephthalate (PET atau PET), High-Density Polyethylene (HDPE), Polyvinyl Chloride (PVC), Low Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP), Polystyrene atau Styrefoam (PS), dan plastik lainnya (termasuk: polikarbonat, poliaktida, akrilik, alrilonitril butadiene, stirena, fiberglass, dan nilon). Istilah-istilah ilmiah tersebut kurang dipahami oleh pemulung, pelapak, tukang sortir, dan pengusaha pencacahan plastik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam pengelolaan sampah dikenal istilah ekonomi sirkular (circular economy), merupakan salah satu prioritas Pemerintah RI dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan sampah dan mendorong pertumbuhan industri daur ulang dalam negeri. Pendekatan ekonomi sirkular memiliki tujuan utama untuk meminimalisasi sampah yang masuk ke lingkungan (solusi ekologi) - sekaligus mengoptimalkan nilai recovery dari berbagai jenis sampah untuk dimanfaatkan oleh industri (solusi ekonomi). (Ditjen PLSB KLHK, 2021).
Pemerintah telah menetapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri dan Kapolri melalui Menteri Perdagangan No. 482 Tahun 2020, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.235/MENLHK/PSLB/PLB.3/5/2020, Menteri Perindustrian No. 715 Tahun 2020 dan Kepala kepolisian RI No. KB/1/V/2020 tentang Pelaksanaan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun sebagai Bahan Baku Industri pada tanggal 27 Mei 2020. SKB ini memuat kesepakatan penyusunan bersama peta jalan (road map) dalam rangka percepatan ketersediaan bahan baku industri dalam negeri sebagai pengganti bahan baku impor limbah non B3, khususnya kelompok plastik dan kertas.
Mengapa sampah plastik harus didaur-ulang?
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertama, untuk mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah. Kedua, mengurangi pencemarann dan kerusakan lingkungan. Ketiga, memenuhi kebutuhan bahan baku. Keempat, meningkatkan nilai tambah. Kelima, mengembalikan sampah menjadi sumberdaya. Keenam, menghemat sumberdaya. Ketujuh, menghemat energi suatu perusahaan.
"Kita harus mendukung setiap proses aktivitas pengolahan sampah, terutama sampah plastik," ujar Bagong.
Pengurangan dan pengolahan sampah merupakan bagian amanat UU No. 18/2008, PP No. 81/2012, Perpres No. 79/2017, Perpres No. 83/2018 dan peraturan terkait.
"Semoga kita semakin peduli terhadap lingkungan lestari dan masa depan kesehatan manusia yang semakin baik dengan harapan hidup semakin panjang," tutupnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!