Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Epidemi Rabun Jauh Sedang Dialami Anak-anak di Seluruh Dunia

📅 Rabu, 05 Jun 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Epidemi Rabun Jauh Sedang Dialami Anak-anak di Seluruh Dunia Doc: Wikimedia

Anak-anak di dunia saat ini sedang mengalami epidemi rabun jauh (miopi) akibat kebiasaan yang berubah. Berbagai metode telah dilakukan karena jika dibiarkan, epidemi ini dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius seperti ablasi retina, degenerasi makula, glaukoma, dan bahkan kebutaan permanen.

Pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan anak-anak dan berlanjut sampai sekarang. Mereka seolah tidak lagi memiliki ruang kelas dan taman bermain. Keduanya digantikan oleh pertemuan virtual melalui perangkat digital sehingga waktu mereka dihabiskan anak-anak untuk fokus pada layar dan objek dekat lain di sekitarnya.

Waktu yang dihabiskan di luar ruangan menurun drastis. Pergeseran ini menyebabkan perubahan penting pada anatomi anak-anak. Pada bola mata mereka menjadi memanjang agar lebih mampu mengakomodasi tugas-tugas penglihatan pendek.

Penelitian demi penelitian, mulai dari Eropa hingga Asia, mendokumentasikan perubahan ini. Sebuah analisis dari Hong Kong bahkan melaporkan adanya peningkatan hampir dua kali lipat dalam kejadian bola mata yang meregang secara patologis di antara anak-anak berusia enam tahun dibandingkan dengan tingkat sebelum pandemi.

Pemanjangan ini meningkatkan kejernihan gambar jarak dekat pada retina, lapisan peka cahaya di bagian belakang mata. Namun hal ini juga membuat objek yang jauh tampak buram, sehingga menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai miopi atau rabun jauh.

Meskipun kacamata korektif biasanya dapat mengatasi masalah ini dan memungkinkan anak-anak misalnya melihat papan tulis atau membaca dari jarak jauh, miopi yang parah dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius seperti ablasi retina, degenerasi makula, glaukoma, dan bahkan kebutaan permanen.

Miopi sebenarnya telah melonjak jauh sebelum pandemi Covid-19. Proyeksi yang banyak dikutip pada pertengahan tahun 2010-an menunjukkan bahwa miopi akan mempengaruhi separuh populasi dunia pada pertengahan abad ini, yang secara efektif akan menggandakan angka kejadian dalam waktu kurang dari empat dekade.

"Kini, prediksi yang mengkhawatirkan tersebut tampaknya terlalu sederhana," kata Neelam Pawar, dokter spesialis mata anak di Aravind Eye Hospital di Tirunelveli, India. "Saya tidak berpikir jumlahnya akan berlipat ganda," katanya. "Ini akan menjadi tiga kali lipat," dikutip dari nature.com.

Banyak penelitian telah menunjukkan solusi sederhana untuk mengendalikan arus ini adalah lebih banyak melakukan aktivitas di luar ruangan selama masa kanak-kanak saat perubahan struktur mata paling mungkin terjadi.

Percobaan acak di Asia timur menunjukkan bahwa waktu istirahat tambahan di luar ruangan selama satu jam setiap hari dapat mengurangi kejadian rabun dekat. Namun terbukti sulit untuk menerapkan perubahan tersebut secara konsisten terutama di masyarakat yang sangat menekankan prestasi akademis atau di daerah perkotaan dengan akses terbatas terhadap ruang hijau yang aman.

"Mengajak anak-anak pergi ke luar ruangan adalah hal yang sulit," kata Nathan Congdon, dokter mata di Queen's University Belfast, Inggris, yang telah bekerja di Tiongkok selama hampir 20 tahun.

Oleh karena itu, para peneliti berupaya mencari cara untuk menghadirkan suasana luar ruang kelas kaca, perlengkapan pencahayaan khusus, wallpaper bertema alam, dan kacamata yang memancarkan cahaya intervensi yang tidak memerlukan perbaikan dalam perilaku anak, sistem pendidikan, atau teknik pengasuhan anak. Mereka juga menjajaki intervensi berbasis cahaya dan farmasi lainnya.

Beberapa dari pendekatan ini menunjukkan harapan. Namun ada hambatan dalam pengujiannya seperti para peneliti tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud dengan paparan di luar ruangan yang membantu mencegah miopi. Sementara uji klinis masih bersifat pendahuluan dan banyak penelitian pada hewan masih belum meyakinkan.

"Pemahaman yang lebih kuat akan membantu para ilmuwan mengembangkan pengobatan yang lebih baik," kata Christine Wildsoet, ahli optometri di University of California, Berkeley. "Karena setelah kita mengetahui ciri-ciri utamanya," katanya, "kita bisa membawa beberapa di antaranya ke dalam ruangan," imbuh dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

35 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.