Indonesia Dibuat Seolah Kekurangan Pangan agar Terus Melakukan Impor
📅 Selasa, 28 Mei 2024, 00:18 WIB | Oleh: Tim RedaksiSebaliknya, bagi petani, importasi bisa menurunkan harga jual hingga di bawah 13.000 rupiah per kg, sehingga sangat merugikan petani. Apalagi jika importasi itu dilakukan saat panen sehingga harga gabah/beras akan tertekan lebih rendah lagi.
"Maka dari itu, Bapanas diharapkan bisa merencanakan pengelolaan pangan yang baik, termasuk masalah impor ini," kata Dwijono.
Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, sepakat dengan yang disampaikan Megawati. Menurut Qomar, apabila mengandalkan impor untuk pemenuhan kebutuhan pangan, justru mengancam ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.
"Karena setiap kali impor terjadi akan ada tekanan harga di tingkat petani yang sampai pada tingkatan harga yang merugikan petani," tegas Qomar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kondisi tersebut, terangnya, akan mempengaruhi motivasi petani untuk memacu produksi, termasuk mematikan minat generasi muda untuk bertani. Dengan tren impor yang semakin besar maka secara perlahan akan menjadikan masyarakat semakin bergantung pada impor.
Impor pangan itu, papar Qomar, sudah terjadi pada banyak komoditas dan akan semakin banyak lagi apabila kebijakan impor itu tidak dikendalikan. Sebagai imbasnya, petani semakin semakin termarginalkan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!