Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Indonesia Dibuat Seolah Kekurangan Pangan agar Terus Melakukan Impor

📅 Selasa, 28 Mei 2024, 00:18 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Indonesia Dibuat Seolah Kekurangan Pangan agar Terus Melakukan Impor Doc: Sumber: Kementerian Perdagangan, BPS

JAKARTA - Impor pangan dinilai kerap merugikan para petani di dalam negeri. Kerugian itu terjadi karena permainan dalam impor pangan demi memenuhi keinginan segelintir pihak yang mencari keuntungan atau para pemburu rente (rent seeker).

Hal itu dikemukakan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, saat penutupan Rapat Kerja Nasional V PDI Perjuangan di Jakarta, Minggu (26/5).

Presiden ke-5 RI itu menjelaskan bahwa ketika impor pangan dilakukan maka seharusnya perlu dipertanyaan, apakah sebenarnya masih perlu impor? "Kalau mau, ini dia. Kalau mau, sebenarnya enggak perlu impor," kata Megawati.

Indonesia seharusnya bisa apabila tidak menghendaki impor pangan, karena potensi pertanian Indonesia yang sangat besar. Namun, pemerintah justru tetap melakukan impor. "Bahannya kita, potensinya luar biasa. Tetapi memang sengaja harus ada impor pangan. Kenapa ayo? Saya (pernah-red) di Komisi IV. Saya tahu permainan untuk impor itu," jelas Mega.

"Kalau saya mau ikut, saya sudah tambah kaya. Tapi tidak, saya tidak pernah ikut di dalam permainan tersebut. Sebenarnya kan ada jalannya," katanya.

Saat Mega menjabat sebagai Presiden pun sebenarnya dia telah meminta agar impor pangan dilakukan dengan teliti. Dengan mempertimbangkan hasil dari panen raya yang ada di dalam negeri.

"Itu berarti jelas, cukup atau tidak. Tapi kalau dilihat sekarang, enggak. Selalu dibuat sedemikian rupa, sepertinya selalu kekurangan. Itu pokok persoalan yang seharusnya. Kalian yang punya negara harus memikirkan hal tersebut," tantang Mega.

Putri Proklamator itu juga menyinggung soal permainan impor pangan yang menjadi lahan bagi para oknum mencari keuntungan secara pragmatis. Pengalaman itu disampaikannya karena pernah menjabat sebagai anggota Komisi IV DPR yang membidangi pertanian dan pangan saat itu.

"Saya tiga kali tidak pernah pindah komisi. Coba bayangkan. Mungkin (mobil) Mercy saya udah berapa deh. Waduh. Gila kok yang namanya urusan impor itu. Tapi kenapa? Karena ada bagian mereka yang menikmati, yang lupa diri, yang merasa sudah pada zona nyaman," terang Mega.

"Bayangkan lho. Nah, itu yang membuat secara praktis sepertinya petani sekarang sudah tidak punya apa ya, sudah kayak enggak mau jadi petani. Kan ini jadi persoalan. Tanah ada, bibit ada, orang yang ngerjain tidak ada. Ini pikiran kalian lho di daerah. Impor itu pragmatis banget dibandingkan upaya memberdayakan petani bangsa sendiri," tegas Mega.

Keuntungan Besar

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto, membenarkan bahwa importasi beras umumnya memberi keuntungan yang relatif besar.

Sebagai contoh, sekarang harga beras medium di Thailand dan Vietnam sekitar 5.000 rupiah per kilogram (kg), sedangkan harga jual di Indonesia 13.000 rupiah per kg, sehingga ada marjin atau selisih sebesar 8.000 rupiah per kg.

"Kita mengimpor biasanya hingga dua juta ton, silakan dihitung rente berupa selisih harganya = Rp8.000 x 2 juta ton bisa mencapai 16 triliun rupiah, betapa menguntungkan bagi importir," kata Dwijono.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog denga...
Luar Negeri
PBB Serukan Negara-negara T...

Wabah Ebola Tewaskan Lebih dari 4.000 Warga di Kongo

29 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Wabah Ebola Tewaskan Lebih ...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.