Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BNPB Tegaskan Penanganan Karhutla Butuh Strategi Terpadu

📅 Senin, 03 Agu 2026, 03:17 WIB | Oleh: Tim Penulis
BNPB Tegaskan Penanganan Karhutla Butuh Strategi Terpadu Doc: Antara
Ket. Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan (kiri) memaparkan strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago saat meninjau penanggulangan karhutla di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (1/8/2026).

BANJARBARU - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membutuhkan strategi terpadu, termasuk dukungan operasi modifikasi cuaca (OMC) apabila tersedia potensi awan yang memungkinkan untuk membantu menurunkan hujan dalam jumlah besar guna mendukung proses pemadaman.

“BNPB menerapkan pola penempatan helikopter secara dinamis dengan melakukan reposisi armada ke provinsi prioritas berdasarkan perkembangan indeks ancaman karhutla di berbagai wilayah,” kata Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan saat meninjau penanggulangan karhutla di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (1/8).

Menurutnya,penggunaan helikopter pengebom air lebih efektif ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih pada tahap awal atau saat api mulai muncul agar dapat segera ditekan sebelum meluas.

“Helikopter water bombing (pengebom air)bukan dirancang untuk memadamkan kebakaran dengan luasan sangat besar, melainkan digunakan saat api masih terbatas sehingga penyiraman dari udara dapat lebih optimal,” tegasnya.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago meminta jajaran instansi terkait melalukan penanganan cepat untuk mencegah bencana karhutla semakin meluas.

Salah satu upaya yang disarankan Djamari yakni memadamkan titik api yang masih kecil sebelum api tersebut meluas.

Diketahui, saat ini beberapa provinsi di Tanah Air telah menghadapi karhutla seperti Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Adapun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada bulan Juli hingga September 2026. Puncak kemarau pada bulan Juli mencakup 83 zona musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia.

Sementara, pada bulan Agustus, puncak kemarau terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) dan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) di bulan ­September. Ant/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Daerah
Puncak Kemarau di Sumsel, A...
Ekonomi
Penyaluran Bantuan Pangan L...
Advertisement
Penumpang KRL Makin Nyaman Tak Perlu Jalan Jauh! PT KAI Rencanakan Travelator Hubungkan Stasiun Karet dan BNI City

Penumpang KRL Makin Nyaman Tak Perlu Jalan Jauh! PT KAI Rencanakan Travelator Hubungkan Stasiun Karet dan BNI City

01 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.