Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bencana Longsor Landa Papua Nugini, Ratusan Orang Dikhawatirkan Tewas Tertimbun

📅 Sabtu, 25 Mei 2024, 10:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bencana Longsor Landa Papua Nugini, Ratusan Orang Dikhawatirkan Tewas Tertimbun Doc: AFP
Ket. Orang-orang berkumpul di lokasi tanah longsor di provinsi Enga, Papua Nugini pada Jumat (24/5).

PORT MORESBY - Tanah longsor melanda desa-desa terpencil di dataran tinggi Papua Nugini pada Jumat (24/5), menyebabkan banyak rumah terkubur dan sejumlah warga dikhawatirkan tewas.

Bencana tersebut melanda wilayah terpencil di provinsi Enga sekitar pukul 03.00 waktu setempat, menurut pejabat pemerintah, ketika banyak penduduk desa sedang tertidur.

Gubernur provinsi Peter Ipatas mengatakan kepada AFP, "telah terjadi tanah longsor besar yang menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda".

Dia kemudian mengatakan "enam desa" terkena dampaknya dan menggambarkan ini sebagai "bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Tiga jenazah sejauh ini telah ditemukan, namun dikhawatirkan ratusan jenazah lainnya terkubur. Jumlah korban sebenarnya baru diketahui mungkin berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian.

Steven Kandai, tokoh masyarakat di lokasi kejadian, mengatakan kepada AFP, banyak warga tidak sempat mengungsi.

"Tiba-tiba terjadi longsor besar. Gunung itu tiba-tiba runtuh saat orang-orang masih tidur." Rumah mereka "tertimbun seluruhnya".

Ada pula yang "mendengar suara keras batu-batu berjatuhan lalu melarikan diri. Namun ada juga yang melarikan diri, dalam perjalanannya tewas tertimpa pohon tumbang, batu terguling," ujarnya.

Gambar-gambar menunjukkan pemandangan kehancuran total, sebagian besar tanah terbelah dari Gunung Mungalo yang ditumbuhi tanaman lebat.

Longsoran meninggalkan batu-batu besar seukuran mobil, pohon-pohon tumbang, dan tanah yang membentang hingga ke dasar lembah.

Sisa-sisa tempat penampungan timah bergelombang dan sebuah minibus yang terbalik dapat dilihat di bawah reruntuhan.

Puluhan pria dan wanita bergegas melewati tumpukan batu dan tanah, menggali, menangis, mendengarkan korban selamat, atau mengamati pemandangan dengan rasa tidak percaya.

Ada yang menjadi penyelamat, mengenakan sepatu bot, mengenakan senter, membawa parang dan kapak bergagang panjang untuk membantu membersihkan puing-puing.

Anak-anak menangis ketika ibu mereka memanjat bebatuan untuk mencari orang yang dicintai.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.