Indonesia Berpeluang Jadi 'Raja' Avtur Ramah Lingkungan
📅 Sabtu, 11 Mei 2024, 11:35 WIB | Oleh: Tim PenulisTak hanya produksi, PT Pertamina bersama PT Garuda Indonesia juga telah menguji coba Bioavtur J2.4 untuk penerbangan komersial dari Bandara Soekarno-Hatta; Tangerang, ke Bandara Adi Soemarmo; Surakarta dan sebaliknya, tahun lalu. Hasil uji coba menunjukkan bahwa performa Bioavtur J2.4 sebanding dengan avtur konvensional.
KPI juga tengah membangun fasilitas produksi avtur berkelanjutan di kilang Cilacap, Jawa Tengah, menggunakan bahan baku minyak jelantah. Fasilitas ini akan beroperasi perdana pada 2026. Fasilitas serupa juga akan dibangun KPI di Kilang Plaju dan Sungai Gerong, Sumatra Selatan. Pabrik yang diharapkan mulai beroperasi pada 2027 ini akan menghasilkan 20 ribu barel per hari bahan bakar bensin, avtur, dan diesel terbarukan.
Tiga strategi kunci
Pemerintah bersama dengan industri terkait seperti Pertamina dan Garuda Indonesia perlu mengambil tiga langkah strategis agar avtur berkelanjutan buatan Indonesia mengungguli produk serupa dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Sebaiknya Anda baca juga:
1. Pemakaian sumber berkelanjutan
Bahan baku merupakan salah satu isu penting dalam produksi avtur berkelanjutan. Pasalnya, tak semua sumber bioenergi berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Indonesia perlu meninggalkan penggunaan tanaman pangan seperti minyak sawit, jagung, dan singkong sebagai sumber utama bahan bakar berkelanjutan. Sebab, potensi pemangkasan emisi gas rumah kaca dari bioenergi tanaman pangan dianggap rendah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, bioenergi dari tanaman pangan juga berisiko memicu kompetisi bahan baku antara sektor energi dengan sektor pangan. Akibatnya, masyarakat pun dirugikan sebab hal tersebut berpotensi menaikkan harga pangan. Risiko ini mulai terlihat dalam produksi biodiesel yang berebut bahan baku minyak sawit dengan produsen minyak goreng.
Indonesia sepatutnya melirik pembuatan avtur berkelanjutan dari limbah seperti minyak jelantah, sampah makanan, serta limbah pertanian dan kehutanan. Sebab, produksi avtur dari bahan ini sekaligus mampu mengurangi emisi sektor limbah di Indonesia.
Minyak jelantah, khususnya, adalah salah satu bahan baku potensial. Dengan perkiraan potensi minyak jelantah sebesar 715 ribu ton per tahun, Indonesia mampu memproduksi lebih dari 2 juta barel avtur berkelanjutan.
2. Peningkatan kualitas dan kadar avtur berkelanjutan
Konsentrasi avtur berkelanjutan dalam Bioavtur J2.4 masih berada di angka yang relatif rendah. Pertamina perlu membuat peta jalan peningkatan kualitas serta angka pencampuran avtur berkelanjutan.
Secara teknis, avtur berkelanjutan saat ini dapat dicampur dengan avtur konvensional dengan perbandingan 50:50.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!