Indonesia Berpeluang Jadi 'Raja' Avtur Ramah Lingkungan
📅 Sabtu, 11 Mei 2024, 11:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-Pertamina
Sektor penerbangan menyumbang emisi gas rumah kaca lebih dari 800 juta ton CO2 pada 2022-sekitar 2% dari emisi global. Meskipun relatif kecil, emisi dari sektor ini tergolong sukar dikurangi ke titik nol atau didekarbonisasi.
Misalnya, elektrifikasi transportasi udara tidaklah sesederhana mengganti bus bensin ke bus listrik karena intensitas penggunaan energi sektor ini sangat tinggi. Sementara itu, penggantian sumber energi alternatif seperti hidrogen untuk pesawat terbang secara teknis juga cukup sulit dan mahal biayanya.
Indonesia perlu segera menyusun rencana untuk mengurangi emisi sektor penerbangan secara bertahap. Sebab, per 2019, Indonesia tercatat sebagai tujuh negara penghasil emisi terbesar dari sektor penerbangan domestik (lebih dari 8 juta ton CO2).
Sebagai peneliti di sektor energi, saya menganggap Indonesia bisa mengatasi persoalan ini dengan menggenjot produksi sustainable aviation fuel (SAF) atau dikenal dengan avtur berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggunaan avtur berkelanjutan ini mampu memangkas emisi gas rumah kaca hingga 80% dibandingkan avtur berbasis fosil. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan bahan bakar berkelanjutan dapat berkontribusi hingga 65% dari total pengurangan emisi yang harus dicapai sektor penerbangan untuk memenuhi target emisi nol bersih versi IATA pada 2050.
Potensi besar
Indonesia memiliki segudang potensi untuk menjadi salah satu produsen avtur berkelanjutan terbesar di dunia. Avtur ini diproduksi dari bahan baku bukanfosil yang memenuhi kriteria keberlanjutan. Beberapa di antaranya adalah minyak jelantah, limbah pertanian, dan bahkan CO2 dari gas buang industri atau atmosfer.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan besarnya kapasitas produksi bahan bakar nabati saat ini (108,22 terrawatt jam), Indonesia tak hanya mampu memenuhi kebutuhan avtur berkelanjutan di tanah air, tapi juga mengekspornya ke negara-negara di kawasan Asia-Pasifik.
Peluang besar ini sejalan dengan visi-misi pemerintahan mendatang untuk mengembangkan ekosistem produksi bahan bakar berbasis biomassa besar-besaran di Indonesia.
Sudah sejauh mana?
Indonesia sebenarnya sudah menginisiasi produksi avtur ramah lingkungan.
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), misalnya, berhasil memproduksi avtur berkelanjutan di Kilang Cilacap bernama Bioavtur J2.4 dari produk turunan kelapa sawit. J2.4 merujuk pada konsentrasi produk turunan sawit sebesar 2,4% yang dicampur ke avtur fosil.
Proyek tahap pertama Bioavtur J2.4 mulai beroperasi pada 2021 dengan kapasitas produksi 9 ribu barel per hari. Teknologi pembuatannya dikembangkan oleh Pertamina Research and Technology Innovation (RTI) bersama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 2010.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!