Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Membangun Perilaku Berkelanjutan Demi Melestarikan Air

📅 Jumat, 10 Mei 2024, 17:29 WIB | Oleh:

Apalagi tatkala mendapati kenyataan bahwa 97 persen air yang ada di Bumi ini merupakan air asin yang tidak dapat dikonsumsi langsung dan hanya 3 persen yang bisa dikonsumsi manusia. Sementara dari 3 persen itu juga tidak semuanya mudah diakses, ada yang tersembunyi jauh di dalam tanah.

Jadi, sebenarnya sumber daya air yang bisa kita konsumsi hanyalah sedikit jumlahnya sehingga dari yang sedikit itu harus kita jaga kelestariannya. Jika tidak, generasi anak cucu kita kelak bakal kesulitan mendapatkan air untuk dikonsumsi.

Demi menjaga kelestarian air setiap manusia yang tinggal di planet ini mesti memiliki kesadaran untuk turut menjaganya. Seperti hal-hal sederhana berikut yang dapat kita terapkan dalam keseharian:

1. Hemat. Gunakan air seperlunya, sebanyak yang kita butuhkan saja dan jangan berlebihan. Untuk penggunaan air sekali buang, seperti ketika kita mencuci tangan, mencuci kaki, mandi, atau mengambil air wudhu, di mana air langsung mengalir ke saluran pembuangan (tangki septik) yang berakhir menjadi limbah dan tak diolah lagi, sebaiknya kita membuka keran secukupnya, tidak membuka keran dengan maksimal sehingga air mengalir begitu deras dan menyebabkan pemborosan.

Mandi menggunakanshowerjuga membantu penghematan air ketimbang dengan bak mandi ataubathub. Terlalu sering Anda mandi dengan cara berendam, berarti melakukan pemborosan air. Adapun aktivitas membersihkan diri denganshower, selain penggunaan air efektif, juga memberikan rileksasi dengan efek pijitan pada tubuh.

2. Guna ulang. Air bekas yang tidak tercemar sabun, detergen, atau zat kimia, upayakan untuk digunakan ulang. Semisal air bekas cucian sayur bisa digunakan untuk menyiram tanaman. Saat menguras kolam ikan, airnya dapat disalurkan untuk penyiraman kebun, begitu dan seterusnya. Hanya air tercemar yang tidak dapat digunakan lagi, yang boleh mengalir ke saluran pembuangan akhir. Agar lebih banyak air yang bisa digunakan ulang, minimalkan pemakaian zat-zat pencemar air.

3. Menjaga dan melindungi. Air, di mana pun keberadaannya, apakah di selokan, sungai, atau laut, jaga dan lindungi dari pencemaran dengan tidak mengotorinya apalagi membuang sampah. Di tengah kesadaran lingkungan yang makin tinggi, perilaku membuang sampah di aliran air mengindikasikan manusia belum berperadaban yang pantas mendapat kecaman. Bila Anda telah memiliki kesadaran untuk menjaga air dari polusi, jangan berhenti pada diri sendiri, serukan juga pada orang lain di sekitar atau tegur orang yang mencemari air. Bisa juga, lingkungan sosial menerapkan sanksi untuk perilaku buruk itu dengan saling mengawasi termasuk dengan memanfaatkan kamera pengawas. Membuang sampah di air adalah kejahatan lingkungan yang perlu disanksi hingga jera. Sebagai langkah preventif, kepala lingkungan terlebih dulu menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan air agar terbangun kesadaran bersama.

4. Merawat. Terlibat dalam kegiatan penghijauan sebagai upaya konservasi air seperti penanaman pohon di hutan, lahan gundul, atau setidaknya di sekitar rumah.

Bila Anda memiliki pekarangan yang lumayan luas, alokasikan sebagian untuk penanaman pohon bambu. Sebagaimana diketahui salah satu manfaat pohon bambu adalah mampu meningkatkan volume air. Laporan Environment Bamboo Foundation (EBF) menyatakan bahwa debit air di suatu lahan meningkat setelah beberapa tahun ditanami bambu. Bahkan, di beberapa kasus keberadaan bambu dapat memunculkan mata air baru.

Di sejumlah negara, seperti India dan China telah memanfaatkan bambu sebagai tanaman konservasi air dan tanah. Apalagi di Kolombia, orang-orang yang sedang menanam bambu akan menyebutnya dengan 'menanam air'.

Ambil bagian kita!

Laporan UN Water 2024 menggambarkan bahwa setengah dari populasi dunia saat ini mengalami masalah serius dengan ketersediaan air. Direktur Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Tri Tharyat menyebutkan, "Di tahun 2022, sebanyak 2,2 miliar orang hidup tanpa akses air minum yang dikelola secara baik dan benar. Selain itu, 3,5 miliar orang juga kekurangan akses terhadap sanitasi yang dikelola secara aman".

Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan pada tahun 2050 krisis air akibat perubahan iklim akan meningkatkan kerawanan pangan. Lebih dari 500 juta petani skala kecil yang menghasilkan 80 persen sumber pangan dunia saat ini menjadi kelompok yang paling rentan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

31 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.