Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspadai Pelambatan Konsumsi Rumah Tangga

📅 Sabtu, 04 Mei 2024, 00:06 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspadai Pelambatan Konsumsi Rumah Tangga Doc: ISTIMEWA
Ket. BHIMA YUDHISTIRA Direktur Eksekutif Celios - Ada kecenderungan pertumbuhan konsumsi hanya mencapai 4–4,3 persen secara tahunan.

JAKARTA - Kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen tahun lalu seharusnya meningkatkan pendapatan negara terutama dari PPN. Sayangnya, dengan kenaikan tarif itu, pendapatan PPN malah turun 16 persen.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan turunnya setoran PPN menunjukkan pelambatan konsumsi rumah tangga, terutama kelompok menengah ke atas.

Dia mensinyalir kenaikan harga pangan sejak tahun lalu sangat memukul masyarakat, sehingga pengeluaran untuk barang sekunder dan tersier, misalnya pembelian mobil, motor, hingga perhiasan ikut turun. Di saat yang sama, kenaikan tarif PPN menurunkan minat masyarakat berbelanja. Sebagian justru lebih memilih menabung di bank atau berinvestasi.

"Ada kecenderungan pertumbuhan konsumsi hanya mencapai 4-4,3 persen secara tahunan," kata Bhima.

Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan penurunan penerimaan PPN bukan hanya mencerminkan perlambatan ekonomi, tetapi juga sebagai kegagalan eksekusi dari kebijakan fiskal.

"Menkeu harus menjelaskan sektor-sektor mana tepatnya yang turun dalam pemasukannya, juga bagaimana sistem pelaporan apakah terjadi perbaikan," paparnya.

Menurut Aditya, di internal terutama administrasi pajak seperti efisiensi dalam pengumpulan dan penegakan pajak juga berperan dalam menentukan pendapatan PPN.

Peningkatan dalam sistem pelaporan dan pemantauan transaksi serta tindakan penegakan hukum terhadap pelanggar pajak dapat mempengaruhi penerimaan PPN.

"Kita kan makronya masalah, tapi secara mikro yang dalam kontrol kita juga belum banyak terjadi perubahan. Lihat saja misalnya ramai-ramai soal bea cukai imbas dari aturan baru Kemendag," kata Aditya.

Peneliti ekonomi Celios, Nailul Huda, mengatakan satu tantangan untuk tahun ini memang pendapatan pajak bisa berkontraksi cukup signifikan, namun belanja program cukup besar, terutama untuk program pemerintahan baru.

"Salah satunya memang dari PPN yang turun hingga 16 persen, bisa dikatakan belanja konsumsi turun 26 persen. Padahal PPN merupakan salah satu sumber penerimaan negara terbesar," ungkapnya.

Penurunan pendapatan PPN membuat penurunan penerimaan negara secara signifikan. Memang salah satu faktornya adalah restitusi PPN yang cukup besar, namun perlambatan konsumsi membuat kinerja PPN tidak sesuai dengan target.

"Konsumsi rumah tangga diprediksi melambat yang diakibatkan oleh inflasi. Inflasi ini disebabkan oleh kenaikan tarif PPN dari 10 ke 11 persen, kenaikan barang kebutuhan pokok, dan faktor lainnya," papar Huda.

Sementara itu, pakar ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan penurunan PPN dan PPnBM memang bisa diartikan sebagai terjadinya penurunan daya beli masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.