Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

BI Harus Naikkan Suku Bunga agar 'Outflow' Tidak Berlanjut

📅 Rabu, 24 Apr 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
BI Harus Naikkan Suku Bunga agar 'Outflow' Tidak Berlanjut Doc: KORAN JAKARTA/M FACHRI
Ket. ANDRY ASMORO Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk - Dengan higher for longer, maka otomatis potensi untuk ekspektasi pertumbuhan ekonominya jadi terbatas, karena inflasi, cost of borrowingnya jadi tetap mahal. Itu kan implikasinya.

JAKARTA - Aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan dalam negeri akan terus menekan nilai tukar rupiah. Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sudah tidak mempan menahan kejatuhan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Oleh sebab itu, BI selaku otoritas moneter didesak untuk menaikkan suku bunga acuan BI7days Reverse Repo Rate agar outflow tidak berlanjut.

Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), Andry Asmoro, menyampaikan bahwa masih terdapat ruang bagi BI untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Dia menyebutkan konsensus memperkirakan terdapat kenaikan suku bunga acuan oleh BI pada tahun ini, seiring dengan menguatnya dollar AS terhadap mata uang lain termasuk rupiah, ditambah menurunnya ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve akan segera melakukan cut rate Fed Fund Rate (FFR).

"BI mungkin masih berpikir untuk hold dulu. Walaupun ruang naiknya ada, kalau memang rupiah tembus 16.500 rupiah per dollar AS dan outflow juga masih terus terjadi," kata Andry di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, seperti dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan tantangan saat ini adalah apabila terjadi kenaikan harga komoditas terutama minyak mentah yang terus-menerus akibat konflik di Timur Tengah, akan menyebabkan kenaikan tingkat inflasi di berbagai negara.

Dengan kenaikan tingkat inflasi, maka bank-bank sentral dunia termasuk the Fed berpotensi masih akan menerapkan era tingkat suku bunga tinggi atau higher for longer.

"Dengan higher for longer, maka otomatis potensi untuk ekspektasi pertumbuhan ekonominya jadi terbatas, karena inflasi, cost of borrowingnya jadi tetap mahal. Itu kan implikasinya," jelas Andry.

Konsensus juga, katanya, memproyeksikan the Fed baru akan memangkas tingkat suku bunga acuannya pada September 2024, dari yang semula diproyeksikan akan dilakukan pada pertengahan tahun 2024.

"Dari probability market terakhir itu, baru kemungkinan cut rate pada September 2024. Tapi, kalau dilihat dari probability masih imbang sekitar 40 persen," jelas Andry.

Buat Pengendalian Inflasi

Pakar ekonomi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dian Anita Nuswantara, mengatakan jika masih tersedia cukup ruang bagi otoritas moneter maka sebaiknya BI menaikkan suku bunga acuannya dalam menghadapi penurunan kurs rupiah yang sedang terjadi.

"Sebagai upaya preemptive wacana kenaikan suku bunga memang untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global. Ini juga sekaligus bisa untuk mengendalikan inflasi," kata Dian.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo, meminta BI menaikkan suku bunga acuan minimal 25 basis poin (bps) atau 0,25 persen untuk meredam aksi jual yang memicu instabilitas rupiah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Festival Bubur Suro

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Festival Bubur Suro
Daerah
Percepatan Pembangunan Desa...
Nasional
DPD Bersama DPR dan Pemerin...
Megapolitan
Pemkab Bekasi Bersiap Diri ...
Nasional
Kemenham Jajaki Kota Berbas...
Gelombang Panas Sapu Spanyol, 212 Nyawa Melayang Akibat Suhu Ekstrem

Gelombang Panas Sapu Spanyol, 212 Nyawa Melayang Akibat Suhu Ekstrem

25 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.