Pengetatan Suku Bunga The Fed Masih Bertahan dalam Waktu Lebih Lama
📅 Selasa, 09 Apr 2024, 00:04 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S"Laporan hari ini menandai tonggak sejarah kembalinya Amerika," kata Biden, menjelang kunjungan ke Baltimore, Maryland.
Biden mengatakan perekonomian AS menambah lebih dari 15 juta lapangan kerja sejak ia menjabat. "Itu berarti 15 juta lebih orang yang memiliki martabat dan rasa hormat yang didapat dari gaji," katanya.
Pertumbuhan lapangan kerja yang kuat terutama terjadi di sektor kesehatan, rekreasi dan perhotelan, dan konstruksi, serta pekerjaan di pemerintahan. Penghasilan dan jam kerja mingguan rata-rata terus meningkat bulan lalu.
Survei rumah tangga terpisah menunjukkan lonjakan 469.000 orang menjadi angkatan kerja AS, dan peningkatan tingkat partisipasi angkatan kerja. "Hal ini juga akan memperkuat alasan bagi the Fed untuk menunda penurunan suku bunga," kata para ekonom.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kekuatan pasar tenaga kerja AS yang luar biasa, inflasi yang terus berlanjut, dan kondisi keuangan yang terus melemah melemahkan kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat," kata Eswar Prasad, pakar ekonomi di Cornell University.
"The Fed punya waktu untuk menunggu pelonggaran kebijakan moneter, namun juga terkendala oleh dinamika inflasi yang kaku sehingga semakin sulit memprediksi momen optimal untuk mulai menurunkan suku bunga," tambahnya.
Khawatirkan Rupiah
Sebaiknya Anda baca juga:
Seiring dengan menguatnya dollar AS itu menjadi salah satu pertimbangan Barclays memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan BI7 days Reverse Repo Rate pada minggu ketiga April mendatang atau setelah libur Lebaran.
Guru Besar Ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Tika Widiastuti, mengatakan analisis dari Barclays menyoroti potensi kenaikan BI rate dalam rapat Dewan Gubernur berikutnya, tentu sudah memperhatikan pergerakan mata uang dan nilai tukar rupiah yang mendekati level 16.000 rupiah per dollar AS. Menurutnya, penilaian ini menunjukkan kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar dan inflasi di Indonesia.
"Perlu diperhatikan bahwa kondisi ekonomi global yang masih tidak pasti dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dapat memberikan tantangan tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi kebijakan moneter Indonesia untuk tetap berhati-hati dan responsif terhadap perkembangan pasar global serta mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dalam rangka menjaga daya saing dan pertumbuhan ekonomi domestik," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!