Kisah Tragis HMS Wager yang Awaknya Gagal Menjalankan Misi
📅 Senin, 18 Mar 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoHMS Wager awalnya tidak dibangun sebagai kapal perang melainkan kapal dagang yang telah dibeli kembali dan direnovasi untuk berperang. Jadi tugas utamanya setelah direnovasi adalah membawa senjata, perlengkapan angkatan laut, makanan, dan minuman.
Karena wajib militer belum ada di Inggris pada saat itu dan pihak berwenang kekurangan sukarelawan untuk bergabung dengan armada, mereka memaksa mantan pelaut yang mereka temukan untuk ikut serta dalam dalam misi tersebut. Tak heran, nasib buruk menimpa HMS Wager sejak awal pelayarannya pada September 1740.
Saat kapal melintasi Samudera Atlantik, beberapa orang jatuh sakit karena penyakit tifus. Kemudian, saat kapal berlayar mengitari Cape Horn, banyak pria yang jatuh sakit karena penyakit kudis. Tak lama kemudian, beberapa orang yang sakit mulai meninggal termasuk kapten kapalnya yang kemudian digantikan dengan orang kedua di kapal lain yaitu David Cheap.
Awal Mula Malapetaka
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun kapal HMS Wager akhirnya bisa berlayar di sekitar Cape Horn, kondisi kapal tidak baik karena perairan yang deras, dan juga terpisah dari armada lainnya. Karena banyak awak kapal yang terus menderita sakit dan kesulitan untuk menggerakkan kapal mereka yang rusak, mereka pasti merasa takut ketika menyadari bahwa cuaca semakin buruk.
Pada 14 Mei 1741, angin topan menyebabkan HMS Wager karam di sebuah pulau terpencil di lepas pantai Cile, yang sekarang dikenal sebagai Pulau Wager. Pada titik ini, banyak orang yang sakit telah tenggelam, namun sekitar 140 orang yang selamat berhasil mencapai pantai. Sebelumnya ada sekitar 250 orang di dalamnya ketika kapal pertama kali berangkat dalam perjalanannya.
Pada awalnya, orang-orang yang selamat merasa optimis terhadap pulau tersebut, berpikir bahwa pulau ini akan menjadi tempat yang baik untuk mencari perlindungan sambil memikirkan langkah selanjutnya. Namun pulau itu tidak berpenghuni sehingga tidak ada tempat berlindung yang bisa ditawarkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Orang-orang itu juga kesulitan mencari makanan di pulau itu, dan meskipun mereka masih memiliki sisa makanan dari kapal mereka, Kapten David Cheap menyimpannya di tenda agar bisa dijatah seiring waktu. Banyak laki-laki yang mulai menderita kelaparan dan hipotermia akibat cuaca dingin, berangin, dan hujan.
"Awak kapal saya ketika kapal karam hampir semuanya sakit, karena tidak lebih dari enam atau tujuh pelaut, dan tiga atau empat marinir, yang mampu menjaga geladak," tulis Kapten Cheap seperti dikutip lamanAll That's Interesting.
Meskipun para kru sempat dikunjungi oleh sekelompok masyarakat pribumi ramah yang melakukan perjalanan dengan kano dan jelas telah beradaptasi untuk hidup di lingkungan yang keras, namun Inggris menolak untuk menerima bantuan dari apa yang mereka yakini sebagai peradaban inferior. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!