Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Diversifikasi Pangan Jangan Setengah Hati

📅 Selasa, 12 Mar 2024, 10:02 WIB | Oleh:
Diversifikasi Pangan Jangan Setengah Hati Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Pemerintah perlu menyusun strategi atau terobosan untuk menjadikan beras tidak lagi sebagai bahan pangan utama sumber karbohidrat. Karena itu, pemerintah harus serius mengimplementasikan diversifikasi pangan pokok, terutama sumber karbohidrat.

Dosen Universitas Catur Insan Cendekia (UCIC) Cirebon, Dr Taufan Hunneman, menilai beras tidak perlu dipaksakan menjadi satu-satunya komoditas pemenuhan kebutuhan karbohidrat nasional. Sebab, hal itu akan sulit terpenuhi, sebagaimana dalam beberapa hari belakangan ini.

"Karena itu, pembenahan bahan pangan nonpadi sudah harus dimulai dari aspek agronomi, pengolahan dan hilirisasi, distribusi, hingga penyajian," ujar Taufan, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (9/3).

Menurutnya, kenaikan harga beras saat ini bisa dijadikan momentum untuk mengembangkan diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat.

Dia menjelaskan alternatif sumber karbohidrat, meliputi singkong, jagung, ubi jalar, sorgum, talas, kentang, sukun dan pisang. Semua tanaman ini, lanjutnya, relatif mudah tumbuh dan dibudidayakan di negeri ini.

"Namun, masalah terbesarnya adalah soal kultur. Masyarakat di Indonesia yang sudah terbiasa mengonsumsi beras atau nasi tiga kali sehari," jelasnya.

Padahal, dia menambahkan, diversifikasi sumber karbohidrat juga penting bagi tubuh manusia. Mengandalkan asupan karbohidrat pada satu sumber saja, dalam jangka panjang dapat berisiko menyebabkan penyakit degeneratif, salah satunya diabetes.

"Selama beras masih memegang hegemoni mutlak dalam asupan karbohidrat masyarakat, selama itu pula komoditas tersebut akan rentan memunculkan turbulensi harga. Terlebih data memperlihatkan, produksi beras nasional sudah kewalahan mengimbangi kebutuhan yang terus meningkat," jelasnya.

Selain tekanan kebutuhan domestik, lanjutnya, sumber pangan karbohidrat dan protein nabati saat ini juga semakin rentan terdampak perubahan iklim.

Berdasar laporan khusus Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan iklim (IPCC) terkait Perubahan Iklim dan Lahan menyebutkan perubahan iklim telah memengaruhi ketahanan pangan melalui peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan frekuensi kejadian ekstrem yang lebih kering.

Dia memperingatkan, di tengah krisis iklim seperti sekarang, masyarakat harus kembali ke ragam pangan lokal, terutama sumber umbi-umbian, jangan lagi terlalu mengandalkan beras.

Sebagai catatan sagu merupakan tanaman endemik Indonesia memiliki fungsi lingkungan yang tinggi. Sagu merupakan sumber pangan yang bisa tumbuh di rawa-rawa dan lahan gambut sehingga memiliki potensi menyerap karbon.

Hilirisasi Sagu

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengembangan sagu untuk diversifikasi pangan sumber karbohidrat sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.