Belajar dari Jakarta, Menata Kampung Pesisir Kota yang Tangguh Iklim
📅 Minggu, 03 Mar 2024, 15:23 WIB | Oleh: Tim PenulisUntuk melaksanakan program ini, pemerintah kabupaten kota maupun provinsi dapat mencontoh program Penataan Kampung Kumuh dengan skema Community Action Plan (CAP) dan Collaborative Implementation Program (CIP) yang digagas pemerintah DKI Jakarta. CAP adalah perencanaan konsep penataan kampung berbasis warga, sedangkan CIP adalah bentuk rencana aksinya.
Pemerintah tak harus menerjunkan aparaturnya untuk melakukan pemberdayaan dan pendampingan kampung satu per satu. Otoritas hanya perlu bermitra dengan perguruan tinggi ataupun organisasi masyarakat sipil yang relevan, lalu menyediakan anggaran program sesuai CAP.
Tugas mitra cukup strategis karena mereka perlu menggali suara warga dengan berembuk, diskusi langsung, hingga berbaur dengan penduduk. Mitra juga perlu melakukan studi kasus dengan daerah lainnya dengan persoalan ataupun solusi serupa. Jangan lupakan penyusunan solusi, uji coba, pemantauan, pendampingan, dan evaluasi juga perlu dilakukan mitra bersama warga.
Patut diingat bahwa pemberdayaan ini tak selamanya berhubungan pembangunan infrastruktur fisik. Dalam beberapa kasus, pemerintah seringkali mengutamakan pembangunan fisik karena pengukuran keberhasilannya dianggap lebih mudah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami menganggap pembangunan manusia dan ekonomi juga penting untuk meningkatkan ketangguhan mereka menghadapi masalah. Sebagai gambaran, kita bisa menyimak suara warga pesisir Jakarta yang saya wawancarai di bawah ini:
"Harapan saya, ada sekolah yang mengajarkan anak-anak kami hidup sehari-hari di pulau: menangkap ikan, membuat kapal, membangun pulau, dan lainnya. Agar mereka bisa menyesuaikan diri dan lingkungan baik. Setiap Sabtu mereka libur, biar mereka belajar ini pada hari itu. Karena lingkungan sudah berubah." -Nelayan sekaligus Ketua RT di Kepulauan Seribu, Jakarta.
Kami dari Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan pernah menjadi mitra pemerintah DKI dalam program CAP di Kelurahan Sukapura, Jakarta Utara pada 2021.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami menggunakan metode Desain sebagai Generator (Design as Generator), yang menggabungkan aktivitas penelitian-desain-aksi dalam pemberdayaan masyarakat. Kombinasi ini memungkinkan pembangunan kota yang hidup, lestari, dan berkeadilan dengan landasan ilmiah (theoretically informed practice) dan di saat yang sama turut pembangunan penghuninya.
Dalam CAP, kami berhasil menggali keinginan warga untuk mempercantik kampung dan mengatasi banjir akibat sungai mengalami pendangkalan. Kami kemudian membuat ruang dialog virtual antara warga dengan pemilik-pemilik bangunan, petugas kelurahan, perusahaan di sekitar Sukapura, hingga DPRD.
Singkat cerita, dialog itu memicu perencanaan aksi pemulihan sungai yang kemudian berhasil mencegah banjir saat musim hujan. Warga pun terlibat dengan merenovasi rumahnya secara sukarela agar menjauh dari sempadan sungai. Solusi ini berlangsung tanpa adanya konflik sosial karena memang datang dari dialog warga bersama pemangku kepentingan.
Contoh lainnya yang bisa kita lihat adalah program penataan Kampung Akuarium di Jakarta Utara yang berhasil memulihkan kehidupan warga pesisir sekaligus menjaga situs Cagar Budaya. Program ini juga disusun dengan skema CAP - CIP dengan pendampingan oleh kelompok relawan lainnya.
Mengukur kesiapan
Memberdayakan kampung pesisir bukanlah langkah mudah karena memakan waktu, pikiran, dan tenaga masyarakat dan pemberdaya. Kesiapan warga berpartisipasi untuk menata kampungnya kemungkinan juga tak merata.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!