Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Tembus 5,21 Persen, Benarkah Daya Beli Warga Ikut Menguat?

📅 Minggu, 05 Jul 2026, 11:55 WIB | Oleh:
Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Tembus 5,21 Persen, Benarkah Daya Beli Warga Ikut Menguat? Doc: Unsplash
Ket. Potret kota Jakarta.

JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengklaim berhasil menjaga laju pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Jakarta tumbuh 5,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.

Capaian tersebut langsung mendapat apresiasi dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menyebut pertumbuhan ekonomi ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Selain itu, Jakarta masih menjadi salah satu motor utama perekonomian Indonesia dengan kontribusi mencapai 16,61 persen terhadap ekonomi nasional.

"Pertumbuhan ekonomi Jakarta yang melampaui rata-rata nasional adalah buah dari kolaborasi. Pemerintah hadir menjaga iklim usaha, dunia usaha bergerak menciptakan nilai tambah, dan warga tetap percaya serta aktif berpartisipasi dalam perekonomian kota," ujar Pramono.

Sepanjang 2025, hampir seluruh sektor usaha mencatatkan pertumbuhan positif. Tiga sektor dengan kenaikan tertinggi berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 9,33 persen, diikuti transportasi dan pergudangan sebesar 8,69 persen, serta jasa lainnya yang mencapai 8,46 persen.

Pada triwulan IV-2025, pertumbuhan ekonomi bahkan semakin menguat menjadi 5,71 persen secara tahunan (year on year). Pemerintah menilai pencapaian tersebut tidak lepas dari berbagai stimulus yang digelontorkan menjelang akhir tahun.

Salah satunya adalah pemberian insentif pajak berupa keringanan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) untuk sektor makanan, minuman, dan perhotelan. Nilai total insentif mencapai Rp495 miliar yang dinikmati lebih dari 45 ribu objek pajak.

Selain itu, Pemprov DKI juga memberikan pembebasan pajak reklame dalam program Jakarta Festive Wonders. Program tersebut diklaim mampu meningkatkan transaksi pusat perbelanjaan hingga Rp15,25 triliun, disertai lonjakan kunjungan mal sekitar 20 persen selama periode Natal dan Tahun Baru.

Namun, benarkah demikian? 

Meski mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,21 persen, struktur pertumbuhan Jakarta turut menjadi sorotan. Data BPS menunjukkan perekonomian ibu kota masih sangat bergantung pada konsumsi. 

Konsumsi rumah tangga menyumbang 62,80 persen terhadap struktur ekonomi, sementara konsumsi pemerintah mencapai 13,20 persen. Artinya, sekitar 76 persen aktivitas ekonomi Jakarta masih ditopang oleh belanja masyarakat dan pemerintah.

Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi berkontribusi sebesar 33,79 persen. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pertumbuhan ekonomi yang terjadi, terutama apakah kenaikan tersebut benar-benar mencerminkan meningkatnya daya beli masyarakat atau lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga barang dan jasa akibat inflasi.

Dalam kondisi inflasi, nilai konsumsi dapat meningkat meski volume barang atau jasa yang dibeli masyarakat tidak bertambah signifikan. Dengan kata lain, pertumbuhan konsumsi belum tentu sepenuhnya berasal dari membaiknya daya beli, melainkan juga dapat dipengaruhi oleh kenaikan harga di berbagai sektor.

Pembacaan terhadap struktur ekonomi tersebut juga memunculkan kekhawatiran kontribusi sektor-sektor di luar konsumsi belum menjadi motor utama pertumbuhan. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Pak presiden jangan percaya lap.bawahan yg ada ojol ...
    Mending naikin tarif sekalian, minimal tarif ojol 15-20 ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
Advertisement
injourney
Advertisement
bni-atasdetailmobile
Advertisement
astra2
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Ekonomi
RAPBN dan Nota Keuangan tah...
Daerah
Evakuasi kapal Mentawai Fas...
Daerah
Prosesi Maria Assumpta Nusa...
Megapolitan
Gubernur Pramono Lepas Pese...
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Kondisi Terkini Pascagempa NTT: 9.290 Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Kondisi Terkini Pascagempa NTT: 9.290 Warga Masih Bertahan di Pengungsian

16 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.