Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penduduk Miskin dan Rentan di Negara Berkembang Makin Tertekan

📅 Sabtu, 02 Mar 2024, 00:08 WIB | Oleh:
Penduduk Miskin dan Rentan di Negara Berkembang Makin Tertekan Doc: ISTIMEWA
Ket. ADHI CAHYA FAHADAYNA Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya Malang - Ketimpangan ekonomi menjadi akar persoalan dari beberapa masalah, seperti kemiskinan, pengangguran, dan tingkat kriminalitas.

JAKARTA - Penduduk miskin dan rentan di negara berkembang semakin tertekan dengan situasi perekonomian dunia. Apalagi, prospek pertumbuhan jangka menengah diperkirakan masih lemah.

Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Kelompok 20 negara ekonomi terbesar dunia (G20) dalam pertemuannya di Sao Paulo, Brasil, sepakat mengakui kalau pemulihan ekonomi lebih baik dari perkiraan, tapi prospek pertumbuhan jangka menengah masih terlihat lemah.

Situasi yang penuh tantangan tersebut memperburuk tekanan sosio-ekonomi dan lingkungan hidup yang telah ada serta memberikan dampak negatif terhadap penduduk miskin dan rentan, yang sebagian besar tinggal di negara-negara berkembang.

"Tren dan guncangan global saat ini, seperti pandemi, perubahan iklim, teknologi digital, fragmentasi, dan proteksionisme perdagangan memperparah kesenjangan dan berdampak negatif bagi negara berpendapatan rendah, terutama bagi keluarga miskin, perempuan, dan daerah tertinggal," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dalam keterangan tertulis yang diterima Antara, di Jakarta, Jumat (1/3).

Para menteri keuangan dan gubernur bank juga menyadari risiko geopolitik akibat perang dan konflik terhadap perkembangan ekonomi dunia.

Oleh sebab itu, mereka berpandangan pentingnya melanjutkan upaya membuat bank-bank pembangunan multilateral (Multilateral Development Banks/MDBs) lebih baik, besar, dan efektif dengan merujuk pada capaian saat Presidensi Italia, Indonesia, dan India.

Mereka juga menganggap perlu untuk terus memperkuat upaya pencegahan, kesiapsiagaan dan respons pandemi, serta meningkatkan mobilisasi pendanaan untuk mendukung investasi infrastruktur dan transisi yang adil.

Pertemuan G20 di Sao Paulo, Brasil, pada 28-29 Februari 2024 itu mengangkat tema "Building a Just World and a Sustainable Planet" yang mengangkat tiga agenda utama, yaitu inklusi sosial dan pengentasan kelaparan, transisi energi dan pembangunan berkelanjutan, serta reformasi tata kelola global.

Ketimpangan Ekonomi

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Malang, Adhi Cahya Fahadayna, yang diminta pendapatnya, mengatakan G-20 harus fokus mengatasi masalah yang selama ini dihadapi negara-negara berkembang yakni ketimpangan ekonomi.

"Problem utama yang dihadapi oleh negara berkembang adalah ketimpangan. Negara berkembang terlihat memiliki produk domestik bruto (PDB) yang tinggi. Namun semakin tinggi PDB, tidak menjamin rasio ketimpangan pendapatan kecil," kata Adhi.

Dengan kondisi ketimpangan yang terjadi antarprovinsi di Indonesia, itu menunjukkan problem ketimpangan menghambat pertumbuhan ekonomi. Ketimpangan ekonomi menjadi akar persoalan dari beberapa masalah, seperti kemiskinan, pengangguran, dan tingkat kriminalitas.

"Maka sangat wajar dengan ketimpangan yang semakin besar dan melebar, pertumbuhuan jangka menengah Indonesia lemah. Solusi komprehensif seperti persebaran penduduk yang merata dan dukungan infrastruktur terhadap provinsi prioritas dengan ketimpangan tertinggi harus menjadi prioritas pemerintah," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Daerah
Siapkan SDM Maritim Unggul,...
Luar Negeri
AS Konfirmasi Dua Orang Men...

Gonzalo Garcia Resmi Dikontrak Fulham dari Real Madrid

46 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Olahraga
Gonzalo Garcia Resmi Dikont...
Ekonomi
Uni Emirat Arab Jajaki Pelu...
Ekonomi
Menanti Sinyal The Fed, 4 A...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.