Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Banyak Negara Berkembang Menuju Krisis Karena Utang Tinggi

📅 Kamis, 22 Feb 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Banyak Negara Berkembang Menuju Krisis Karena Utang Tinggi Doc: ISTIMEWA
Ket. World Bank

WASHINGTON - Bank Dunia dalam peringatan lima puluh tahun penerbitan Laporan Utang Internasional akhir tahun lalu mengatakan negara-negara berkembang mengeluarkan dana sebesar 443,5 miliar dollar AS pada 2022 untuk melunasi utang publik dan jaminannya. Dana yang dikeluarkan itu meningkat 5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior Grup Bank Dunia, Indermit Gill, mengatakan sebanyak 75 negara yang memenuhi syarat untuk meminjam uang dari Asosiasi Pembangunan Internasional atau International Development Association (IDA), sebuah organisasi Bank Dunia fokus pada negara-negara termiskin, membayar utang yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa yakni 88,9 miliar dollar AS pada 2022.

Selain itu, biaya pembayaran utang untuk 24 negara termiskin di dunia diperkirakan akan meningkat drastis sebesar 39 persen pada tahun 2023 dan 2024.

"Tingkat utang yang mencapai rekor tinggi, ditambah dengan suku bunga yang tinggi, telah menempatkan banyak negara di jalur menuju krisis," kata Gill.

"Negara-negara berkembang terpaksa melunasi utang publiknya atau berinvestasi di bidang kesehatan masyarakat, pendidikan, dan infrastruktur," katanya.

Indonesia, bisa jadi termasuk dalam negara yang berada di jalur menuju krisis karena besarnya utang. Posisi utang Indonesia hingga akhir November 2023 sebesar 8.041,01 triliun rupiah. Naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 7.950,52 triliun rupiah.

"Jumlah utang Pemerintah pada periode ini mencapai Rp8.041,01 triliun dengan rasio utang terhadap PDB 38,11%," tulis Kemenkeu dalam buku APBN Kita.

Dikutip dari Development Aid, dalam tiga tahun terakhir, 10 negara berkembang mengalami 18 kali gagal bayar (sovereign defaults) atau gagal bayar utang yang merupakan angka yang lebih besar dibandingkan gabungan seluruh utang negara (default) yang terjadi pada 20 tahun sebelumnya.

Selain itu, sekitar 60 persen negara berpendapatan rendah mempunyai risiko tinggi atau sudah mengalami kesulitan utang. Penderitaan itu makin parah karena lebih dari sepertiga utang publik negara-negara berpendapatan rendah dikenakan suku bunga yang bervariasi dan berisiko meningkat secara tiba-tiba.

Negara-negara berpendapatan rendah yang berutang banyak juga menghadapi beban lain, akumulasi pokok, bunga, dan biaya yang harus mereka bayarkan saat ini karena telah berpartisipasi dalam Inisiatif Penangguhan Layanan Utang (DDSI) G-20 di era pandemi pada 2020, membuat mereka semakin berat melunasi utangnya.

Berita tersebut terus bertambah buruk di negara-negara yang mempunyai utang besar dan berpendapatan rendah. Negara-negara yang memenuhi syarat IDA mempunyai utang yang jauh melebihi pertumbuhan ekonomi mereka sendiri. Dari tahun 2012 hingga 2022, negara-negara yang memenuhi syarat IDA meningkatkan utang luar negeri mereka sebesar 134 persen, jauh melampaui peningkatan pendapatan nasional bruto (GNI) yang jauh lebih rendah yaitu 53 persen.

Kekhawatiran Meningkat

Gill dalam pidatonya menyampaikan bahwa sungguh menyedihkan untuk menggambarkan dunia yang terkepung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi yang tidak stabil yang meningkatkan risiko negara-negara berpenghasilan rendah jatuh ke dalam krisis utang.

"Saat ini, satu dari empat negara berkembang sudah tidak bisa mengakses pasar modal internasional, dan utang telah menjadi beban yang hampir melumpuhkan banyak negara," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Luar Negeri
Selamat Datang di Festival ...
Daerah
Kebakaran Kawah Ijen Sudah ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.