Pertanian Indonesia Membutuhkan Riset dan Inovasi Bibit Unggul
📅 Selasa, 06 Feb 2024, 00:02 WIB | Oleh: Eko S
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Indonesia membutuhkan riset dan inovasi dalam menghasilkan bibit pertanian yang unggul. Hal ini diperlukan karena saat ini petani tidak mendapat bibit unggul yang memadai dan menyeluruh. Riset dan inovasi untuk menghasilkan bibit unggul sangat kurang.
"Indonesia juga kurang petugas penyuluh pertanian dan kurang pupuk, kurang sarana prasarana dan teknologi pertanian. Riset dan inovasi untuk menghasilkan bibit unggul sangat kurang," kata Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, melalui telepon di Jakarta, Senin (5/2).
Seperti dikutip dari Antara, Esther turut menanggapi apa yang disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang menambah anggaran 14 triliun rupiah untuk penyediaan pupuk bersubsidi bertujuan agar target pengadaan 7,7-7,8 juta ton pupuk bersubsidi tahun ini dapat tercapai.
Esther mengakui tantangan dalam sektor pertanian mencakup aspek pupuk yang langka, mahal, serta kurangnya bimbingan teknis bagi petani.
"Kenapa nggak dari dulu, petani sudah lama kekurangan pupuk. Harga pupuk mahal dan langka. Mereka menanam juga tanpa bimbingan teknis dari penyuluh pertanian," ucap Esther.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Esther, Indonesia juga membutuhkan petugas penyuluh pertanian dan pasokan pupuk yang lebih banyak. Petani sering kali menanam tanpa panduan teknis yang memadai, dan masalah tersebut mempengaruhi produktivitas mereka.
Teknologi Pertanian
Di samping itu, kurangnya sarana prasarana dan teknologi pertanian turut menjadi faktor pembatas. Perhatian yang kurang terhadap hal tersebut menyebabkan produktivitas petani Indonesia jauh di bawah negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Tidak heran produktivitas petani sangat rendah jika dibandingkan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam," katanya.
Dia menyebut Indonesia, yang pernah mencapai swasembada beras pada tahun 1984 dan menjadi eksportir gula, sekarang malah mengimpor berbagai komoditas, seperti beras, gula, sayur, dan buah.
Kendati Indonesia memiliki sejarah prestasi di bidang pertanian, terutama pada masa penjajahan Belanda, sekarang terjadi perubahan dinamika. Esther mengungkapkan keprihatinannya terhadap impor berbagai komoditas pertanian, dan menyayangkan kondisi tersebut terjadi menjelang pemilihan umum.
Ia berharap agar adanya perhatian lebih secara terstruktur dan sistematis baik pada riset, inovasi, dan dukungan teknis untuk memajukan sektor pertanian Indonesia secara berkelanjutan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menuturkan pemerintah menyediakan pupuk subsidi tahun ini sebanyak 5,2 juta ton, kemudian alokasinya ditambah oleh Presiden (Joko Widodo) sebanyak 2,5 juta ton, sesuai dengan target pengadaan sebesar 7,7 sampai 7,8 juta ton.
Penambahan alokasi tersebut dilakukan guna mengatasi kekurangan pupuk bersubsidi yang tahun ini ditargetkan akan diberikan kepada 14,3 juta petani.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!