Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

“Wabah Yustinianus' yang Landa Romawi Dipengaruhi Perubahan Iklim

📅 Kamis, 01 Feb 2024, 06:10 WIB | Oleh:

Rekonstruksi menunjukkan bahwa periode dingin yang memiliki suhu rata-rata tiga derajat Celsius lebih rendah dibandingkan suhu tertinggi pada abad-abad sebelumnya selama beberapa dekade. Momen ini bertepatan dengan laporan Romawi mengenai pandemi besar yaitu "Wabah Antonine" yang terjadi sekitar 165 hingga 180 M.

Wabah lainnya adalah "Wabah Cyprian" yang terjadi sekitar 215 sampai 266 M, dan pandemi yang dimulai dengan Wabah Yustinianus, sekitar tahun 541 M hingga tahun 549 M. Wabah ini berlangsung hingga tahun 766 M.

Rekan penulis studi Kyle Harper, seorang sejarawan di Universitas Oklahoma dan penulis bukuThe Fate of Rome: Climate, Disease, and the End of an Empire, mengatakan bahwa pandemi ini tidak berasal langsung dari penurunan suhu tetapi tampaknya disebabkan oleh gangguan yang disebabkan oleh perubahan iklim dalam masyarakat Romawi.

Gangguan ini mencakup berkurangnya pasokan makanan dan maraknya serangan tikus, nyamuk, dan hama lainnya. "Ini tidak berarti pendinginan itu buruk," kata Harper. "Ketika terjadi perubahan iklim yang cepat, hal ini akan sangat mengganggu kestabilan menggeser ekosistem, dan mengganggu kestabilan masyarakat," imbuh dia.

Catatan proksi iklim dari wilayah lain menunjukkan suhu dingin yang terjadi bersifat global, kemungkinan disebabkan oleh serangkaian letusan gunung berapi besar-besaran. Namun penyebab flu yang terjadi bersamaan dengan "Wabah Antonine" dan "Wabah Cyprian" belum diketahui.

Di samping itu penyakit di balik wabah tersebut juga tidak diketahui. Zonneveld mengatakan fluktuasi iklim alami mungkin menjadi penyebabnya.

Sementara menurut sejarawan John Haldon dari Universitas Princeton, yang tidak terlibat dalam penelitian terbaru namun mempelajari dampak perubahan iklim terhadap sejarah, mengatakan bahwa penelitian tersebut dengan tepat mencatat korelasi antara perubahan iklim dan wabah penyakit tanpa menyatakan bahwa keduanya berhubungan langsung.

Dia juga mengatakan ini adalah contoh yang baik dari kerja sama sejarawan dan ilmuwan untuk menafsirkan bukti peristiwa masa lalu.

"Mereka dapat melihat pekerjaan satu sama lain dan melakukancross-check," kata Haldon. "Ada banyak verifikasi yang perlu dilakukan," imbuh dia. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
DLH Cirebon Kerahkan 9 Truk...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
Daerah
Polres Kerinci Bahas Distri...
Olahraga
Sabalengka di Luar Dugaan D...

Tim Piala Dunia, Maroko Dapat Menjadi Kuda Hitam

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Maroko Dap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.