“Wabah Yustinianus' yang Landa Romawi Dipengaruhi Perubahan Iklim
📅 Kamis, 01 Feb 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Wikimedia
Wabah penyakit pes pernah melanda Romawi secara bergelombang dimulai dari Wabah Yustinianus. Penelitian terbaru menyebutkan, penyakit ini dipengaruhi oleh perubahan iklim yang terjadi, dibuktikan dari sampel mikroorganisme "dinoflagellata"
Wabah penyakit pes pernah melanda Kekaisaran Romawi pada abad keenam. "Wabah Yustinianus", demikian dinamakan, termasuk dalam wabah penyakit terburuk yang pernah dialami manusia khususnya masyarakat Eropa ketika itu.
Menurut sejarawan Bizantium, Procopius, wabah yang terjadi itu disebut hampir memusnahkan seluruh umat manusia. Saat itu setengah populasi Kekaisaran Romawi dan puluhan juta orang di sekitar Mediterania mungkin meninggal dunia dalam pandemi ini.
Wabah yang menurut istilah modern disebabkan oleh penyakit pes. Penyakit ini disebabkan oleh bakteriYersinia pestismelalui gigitan pinjal atau kutu yang hidup pada tikus. Penularan antarmanusia terjadi melaluidropletsyang mengandung bakteri pes.
Penyakit yang saat ini mudah sembuh dengan obat antibiotik ini biasanya dimulai dengan demam, diikuti pembengkakan di selangkangan dan ketiak, kemudian koma ataudelirium, lalu kematian. "Tampaknya tidak ada yang bisa membantu. Penyakit ini tidak ada penyebab yang berada dalam jangkauan penalaran manusia," tulis Procopius.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika itu masyarakat Romawi tidak mengetahui penyebab terjadinya penyakit tersebut. Penyakit yang datang dan pergi di masa lalu ini menurut penelitian terbaru kemungkinan dipengaruhi oleh terjadinya perubahan iklim.
Dalam studi baru yang diterbitkan diScience Advancesmenghubungkan penyakit ini dan pandemi lainnya di Kekaisaran Romawi dengan perubahan iklim. Secara khusus, penelitian ini menemukan periode cuaca dingin dan kering di Semenanjung Italia bertepatan dengan wabah penyakit besar di kekaisaran tersebut.
"Laporan menyatakan bahwa perubahan iklim menyebabkan tekanan pada masyarakat Romawi yang mengakibatkan pandemi semacam itu. Kecocokannya sangat jelas," kata rekan penulis studi Karin Zonneveld, ahli mikropaleontologi di MARUM-Pusat Ilmu Lingkungan Kelautan di Universitas Bremen, Jerman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian tersebut yang merupakan puncak dari upaya selama 10 tahun. "Hasilnya menunjukkan bagaimana perubahan iklim dapat menimbulkan konsekuensi yang mengerikan bagi masyarakat yang tidak cukup kuat untuk menahan gejolak yang ditimbulkannya," kata para penulis penelitian.
Temuan-temuan tersebut bergema saat ini ketika dunia sedang menghadapi pemanasan global yang disebabkan oleh manusia. Hanya ada sedikit pengukuran suhu secara langsung yang dilakukan lebih awal dibandingkan beberapa ratus tahun yang lalu, sehingga para ilmuwan menggunakan metode tidak langsung yang disebut proksi untuk mengintip kembali sejarah iklim Bumi.
Proksinya dapat mencakup lingkaran pohon tahunan dan lapisan es yang mengendap seiring waktu di gletser dan tutup kutub. Namun belum ada penelitian mengenai lingkaran pohon yang menunjukkan iklim Italia pada masa Kekaisaran Romawi. Apalagi sebagian besar gletser berada di Pegunungan Alpen jauh di utara, sehingga tidak dapat diandalkan untuk menentukan iklim di wilayah selatan.
Sampel Fosil
Akhirnya Zonneveld dan rekan-rekannya beralih ke rekor terbaik berikutnya yaitu fosil kista mirip cangkang dari mikroorganisme yang disebutdinoflagellata. Sampel ini diperoleh di sedimen dasar laut dari Teluk Taranto, Italia.
Ketika suhu laut menurun atau meningkat, spesiesdinoflagellatadi air laut purba juga berubah. Oleh karenanya para peneliti dapat menentukan perubahan iklim dari kista khas spesies tersebut untuk selanjutnya menganalisis fosil di berbagai lapisan sedimen oleh tim yang merekonstruksi iklim paleo (paleoclimate) di Italia selatan antara sekitar tahun 200 SM dan 600 M, dengan resolusi kira-kira tiga tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!