Riset: Jelang Pemilu 2024, Ujaran Kebencian terhadap Capres Meningkat di Medsos
📅 Senin, 29 Jan 2024, 10:19 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Winnond
Jati Savitri Sekargati, Glasgow Caledonian University
Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia tinggal menghitung hari, penyebaran ujaran kebencian yang menargetkan tokoh-tokoh politik diperkirakan akan semakin meningkat, seperti yang terjadi pada Pemilu 2019.
PBB mendefinisikan ujaran kebencian sebagai komunikasi apa pun yang menyerang individu atau menggunakan bahasa yang merendahkan atau diskriminatif terhadap individu berdasarkan agama, etnis, kebangsaan, ras, warna kulit, keturunan, atau jenis kelamin.
Selama Pemilu 2019, terdapat lebih dari 200.000 mention di Twitter yang berisi ujaran kebencian yang ditargetkan kepada calon presiden, Joko "Jokowi" Widodo dan Prabowo Subianto, beserta calon wakil presiden mereka masing-masing.
Jumlah tersebut mencapai sekitar 0,2% dari total tweet terkait pemilu pada tahun 2019. Sebagai perbandingan, dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) tahun 2016, ujaran kebencian menyumbang antara 0,1% dan 0,3% dari total satu miliar tweet terkait pemilu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai bagian dari peran saya sebagai peneliti untuk proyek Pemantauan Ujaran Kebencian (Greater Internet Freedom) Harmful Speech Monitoring, yang didukung oleh media nirlaba independen Internews, saya melakukan pengamatan terhadap platform-platform media sosial selama periode Juni-Juli 2023. Saya menemukan bahwa pola yang sama muncul dalam Pemilu 2024.
Penelitian saya menemukan setidaknya 60 contoh ujaran kebencian (terutama di Twitter), dengan 45 di antaranya mengandung nuansa politik. Beberapa komentar ofensif ditujukan kepada tiga calon presiden - Prabowo, Anies Baswedan, dan Ganjar Pranowo. Hal ini sudah terjadi bahkan sebelum ketiganya secara resmi ditetapkan sebagai kandidat oleh KPU.
Ujaran kebencian terhadap calon presiden di X
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian saya berfokus pada platform X (dulunya dikenal sebagai Twitter), karena menurut Laporan Survei Nasional dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Twitter mengandung informasi yang paling mengganggu dibandingkan dengan platform media sosial lainnya.
Saya menggunakan analisis kata kunci dan kontekstual untuk mengidentifikasi ujaran kebencian dalam penelitian saya.
Kata kunci yang saya gunakan antara lain nama-nama politikus ("anies baswedan", "anies", "prabowo subianto", "prabowo", "ganjar pranowo", "ganjar"), serta frasa-frasa umum lainnya seperti "pilpres" atau "pemilihan presiden" dan "pemilu 2024".
Pada 31 Agustus 2023, 60 unggahan ujaran kebencian yang saya identifikasi telah dibagikan sebanyak 6.827 kali di X, YouTube, dan TikTok.
Salah satu akun dengan nama samaran, misalnya, mengunggah konten kebencian tentang Ganjar Pranowo sebagai pembohong dan pecandu pornografi. Hal itu sebagai tanggapan atas pernyataan Ganjar di podcast YouTube pada tahun 2019 bahwa "tidak ada yang salah dengan menonton film porno" dan "saya menyukainya". Faktanya, mayoritas orang Indonesia menganggap menonton film porno tidak dapat diterima secara moral.
Akun anonim lainnya menyebarkan sentimen negatif tentang Prabowo Subianto terkait perannya dalam pembelian jet tempur bekas, yang akhir-akhir ini juga memicu kecaman dari masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!