Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Risiko Pneumonia Meningkat Seiring Bertambahnya Umur

📅 Minggu, 28 Jan 2024, 20:40 WIB | Oleh:
Risiko Pneumonia Meningkat Seiring Bertambahnya Umur Doc: istimewa
Ket. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Paru Dr. dr. Gurmeet Singh, SpPD-KP

JAKARTA - Pneumonia (radang paru-paru) merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat menyerang siapa saja dari berbagai lintas usia, mulai dari usia balita hingga usia lanjut. Pneumonia, dijuluki sebagai silent killer,karena gejalanya sering kali diabaikan, padahal dapat menyebabkan konsekuensi serius bahkan hingga kematian.

Menurut perkiraanWorld Health Organization(WHO), sekitar 450 juta kasus pneumonia tercatat setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan 4 juta jiwa meninggal karena penyakit ini.Di Indonesia, dari 100.000 pasien di rumah sakit di Indonesia, 1.526 diantaranya merupakan kasus pneumonia.

Dari fakta tersebut,Pneumoniapatut diwaspadai,karenajumlah penderita pneumonia meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Menurut Data Riskesdas tahun 2018, prevalensi pneumonia pada kelompok usia 15-24 tahun mencapai 1,8persen, pada kelompok usia 25-44 tahun mencapai 1,9persen, pada kelompok usia 45-54 tahun mencapai 2,2 persen.

Sedangkan padakelompok usia 55-64 tahun mencapai 2,5persen, dan pada kelompok usia 65-74 tahun sebesar 3,0persen. Data ini mencerminkan risiko lebih tinggi bagi populasi lanjut usia, disebabkan karena melemahnya daya tahan tubuh seiring pertambahan usia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan ParuDr. dr. Gurmeet Singh, SpPD-KP, mengungkapkan,penting untuk diingat bahwa gejala pneumonia tidak selalu terlihat dengan jelas. Hal initerutama pada tahap awalpenyakit berkembang.

"Pneumonia, utamanya pada usia dewasa dengan kondisi medis tertentu dan pada usia lanjut, memerlukan perhatian khusus dalam penanganannya, mengingat pneumonia pada kelompok risiko ini dapat dengan cepat menjadi kondisi yang mengancam jiwa,"ujar dia melalui keterangan tertulis Jumat (26/1).

Pneumonia adalah peradangan jaringan paru yang disebabkan oleh berbagai virus, bakteri, dan jamur. BakteriStreptococcus pneumoniae(Pneumokokus) merupakan penyebab utama penyakit ini. Pneumonia dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri dada, batuk berdahak, kesulitan bernapas, pernapasan yang cepat, denyut jantung yang meningkat, dan rasa lemah pada tubuh.

Berbagai faktor risiko mempengaruhi terjadinya pneumonia, seperti kebiasaan merokok atau terpapar asap rokok, kecanduan alkohol. Risiko pneumonia juga semakin tinggi pada orang dewasa apabila memiliki kondisi medis tertentu, seperti penyakit kronis pada jantung, paru, ginjal, atau hati; implan koklea, kebocoran cairan serebrospinal (CSF); penyakit paru obstruktif kronik, emfisema, dan asma; serta penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh seperti diabetes melitus dan infeksi HIV.

Berbagai faktor risiko tersebut meningkatkan urgensi untuk melakukan langkah pencegahan pneumonia.Menurut dia penting untuk memahami bahwa tindakan pencegahan merupakan kunci dalam mengurangi risiko terkena pneumonia.

"Upaya proaktif seperti vaksinasi dapat menjadi langkah pencegahan yang efektif, ditambah dengan upaya pencegahan seperti penggunaan masker, berolahraga secara rutin, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Pemahaman tentang faktor risiko ini dapat membimbing individu dalam melakukan langkah pencegahan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan masing-masing,"paparnya.

Vaksinasi PCV(Pneumococcal Conjugate Vaccine)merupakan salah satu langkah penting dalam pencegahan infeksi bakteri pneumokokus yang merupakan penyebab penyakit pneumonia. Di Indonesia, tersedia vaksin PCV13 yang melindungi dari 13 serotipe pneumokokus, dan dengan perkembangan teknologi terbaru, kini telah tersedia vaksin PCV15 yang memberikan perlindungan tambahan untuk dua serotipe pneumokokus.

Vaksin PCV15 mampu melindungi dari 15 serotipe pneumokokus, dan telah mendapatkan izin edar dari Badan POM untuk digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Selain mencegah pneumonia, pemberian vaksinasi PCV juga dapat mencegah penyakit lainnya, seperti radang selaput otak (meningitis), infeksi darah (bakteremia) dan radang telinga (otitis) yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus.

Country Medical Lead, MSD Indonesia, dr. Mellisa Handoko Wiyono,menuturkan selain dengan meningkatkan literasi masyarakat terkait penyakit pneumonia, vaksinasi PCV menjadi langkah penting bukan hanya untuk pencegahan awal, tetapi juga sebagai upaya efektif dalam mencegah infeksi berulang. Pneumonia dapat menyerang anak-anak, dewasa, hingga usia lanjut, dengan melakukan langkah pencegahan diharapkan dapat membantu mengurangi infeksi pneumonia di tengah masyarakat.

"Di MSD kami terus mendorong masyarakat untuk bersikap proaktif dalam menjaga kesehatan, kami percaya bahwa dengan bersama-sama kita melakukan langkah pencegahan dapat membangun Indonesia yang lebih sehat,"ucapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Olahraga
Formula 1: Lewis Hamilton K...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.