Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Nasib Pengungsi Rohingya, Bagaimana Dehumanisasi Terjadi di Media Sosial

📅 Selasa, 16 Jan 2024, 12:05 WIB | Oleh: Tim Penulis

Begitu pula TikTok @geraldvincentt yang videonya telah ditonton 4,2 juta kali. Meskipun tidak memiliki latar belakang yang berkaitan dengan isu pengungsi, akun-akun tersebut gencar membahas pengungsi Rohingya. Bukannya mengedukasi, konten-konten yang dibuat cenderung provokatif dan menyulut kebencian dari masyarakat.

Ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa di era pascakebenaran atau post-truth, kebenaran informasi menjadi nomor dua. Yang pertama adalah perhatian publik.

Prinsip ini kerap digunakan oleh content creator karena mereka memiliki kepentingan untuk mengapitalisasi akun media sosial mereka. Akun yang memiliki engagement publik yang tinggi akan bernilai jual tinggi, misalnya terkait tarif endorsement produk suatu perusahaan.

Padahal, konten-konten yang dibuat sensasional agar mencuri perhatian publik seringkali mengarah pada dehumanisasi kelompok pengungsi. Pengungsi tidak lagi ditunjukkan sebagai kelompok lemah yang pantas dibantu. Mereka sering ditampilkan sebagai penyelundup, pembuat onar, bahkan disamakan dengan orang-orang yang akan merebut tanah masyarakat lokal.

Pengungsi Rohingya yang datang ke Aceh juga sering disamakan dengan penduduk Israel yang dulunya merupakan pengungsi di tanah Palestina. Publik di media sosial mengekspresikan kekhawatiran masyarakat jika kelompok Rohingya di masa depan akan menjajah tanah masyarakat Aceh.

Tidak sedikit juga yang mengaitkan isu pengungsi ini dengan Pemilu 2024, bahkan dengan penemuan cadangan migas di Aceh.

Ironisnya, konten-konten yang tidak memanusiakan pengungsi semacam ini mendapat perhatian besar dari pengguna sosial media. Pemanfaatan isu untuk kepentingan pribadi inilah yang turut menjadi tantangan bagi produksi informasi tentang krisis kemanusiaan.

Dua mata pisau media sosial

Kehadiran teknologi informasi mulanya diharapkan mampu memperkenalkan masyarakat dengan isu pengungsi internasional. Media sosial, contohnya, seharusnya mampu memfasilitasi produksi, distribusi, dan konsumsi informasi secara cepat dan masif tentang pengungsi.

UNHCR dan Organisasi Migran Internasional (IOM) mengakui bahwa sosial media menjadi elemen penting dalam krisis pengungsi. Gambaran yang tepat tentang pengungsi sebagai kelompok rentan diharapkan dapat meningkatkan keinginan masyarakat untuk menerima atau bersimpati terhadap mereka.

Namun, media sosial layaknya pisau bermata dua. Ia juga berpotensi menjadi sumber dari misrepresentasi dan misinformasi tentang pengungsi serta, lebih jauh lagi, dapat menciptakan sentimen anti-imigran dan rasisme.

Hal ini setidaknya pernah terjadi di Turki. Berita bohong dan rasisme digital mewarnai sosial media masyarakat Turki saat kedatangan pengungsi dari Suriah. Hal yang sama juga terjadi di Inggris, Denmark, dan Kanada saat krisis pengungsi terjadi di Eropa.

Mempopulerkan aksi sosial

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.