Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Nasib Pengungsi Rohingya, Bagaimana Dehumanisasi Terjadi di Media Sosial

📅 Selasa, 16 Jan 2024, 12:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Nasib Pengungsi Rohingya, Bagaimana Dehumanisasi Terjadi di Media Sosial Doc: ANTARA/Irwansyah Putra
Ket. Para pengungsi imigran Rohingya yang terdampar di pantai Lamreh Kabupaten Aceh Besar masih menempati Balee Meurseuraya Aceh (BMA) di Banda Aceh, Aceh, Selasa (12/12/2023).

Bagas Aditya, The University of Melbourne

Pada penghujung 2023, isu pengungsi menjadi perhatian masyarakat Indonesia utamanya di sosial media. Padahal sebelumnya pengungsi internasional ini bukan isu yang banyak dibicarakan publik.

Produksi dan perputaran informasi di sosial media penuh dengan disinformasi dan narasi kebencian terhadap pengungsi. Yang paling terlihat adalah terhadap pengungsi etnis Rohingya, kelompok minoritas di Rakhine, Myanmar, yang mengalami persekusi sosial, politik, dan agama.

Di Indonesia, dehumanisasi kelompok pengungsi bahkan diproduksi dan diamplifikasi oleh influencer dan content creator. Konten mereka berisikan disinformasi dan ujaran kebencian karena cenderung mengutamakan perhatian daripada kebenaran informasi.

Situasi diperparah oleh lambannya pemerintah dan Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) dalam meluruskan informasi. Ini kemudian berdampak pada berkembangnya sikap rasisme dan anti-imigran.

Isu pengungsi internasional di Indonesia

Dalam sejarahnya, Indonesia telah menerima pengungsi internasional sejak tahun 1970-an. Pada saat itu ribuan pengungsi dari Vietnam ditempatkan sementara di Pulau Galang di Batam, Kepulauan Riau, sebelum dipindahkan ke negara penerima atau dikembalikan pulang.

Hingga abad ke-21, pengungsi internasional masih berdatangan ke Indonesia dari berbagai negara. Bukan untuk tinggal menetap, melainkan mencari suaka sementara.

Meskipun sudah lama berurusan dengan pengungsi, Indonesia belum mampu menangani isu ini secara baik. Salah satu contohnya adalah saat kedatangan para pengungsi Rohingya belakangan ini.

Salah satu aspek yang sering luput dalam manajemen krisis pengungsi di Indonesia adalah manajemen informasi publik pada saat krisis terjadi. Kolaborasi pemerintah dan UNCHR cenderung lebih fokus pada proses pencegahan, penyelamatan, pendaratan pengungsi, dan pengelolaan di rumah detensi. Memang, fokus tersebut merupakan amanat Peraturan Presiden (Perpres) No. 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi Dari Luar Negeri.

Di era digital ini, informasi dapat menyebar dengan cepat dan luas ke masyarakat. Keakuratan informasi menjadi penentu bagaimana masyarakat dapat memahami krisis pengungsi yang sedang terjadi.

Kapitalisasi sosial media oleh 'influencer' dan 'content creator'

Setelah banyak content creator menggunakan isu pengungsi Rohingya sebagai bahan untuk meningkatkan popularitas mereka, isu ini semakin menjadi perhatian besar di masyarakat.

Akun instagram @hamzali_abradinezad menjadi contoh bagaimana content creator memanfaatkan isu ini untuk mendapat engagement publik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.