Pakar UB Proyeksikan Konflik dan Anomali Iklim Pengaruhi Perlambatan Ekonomi Global pada 2024
📅 Minggu, 07 Jan 2024, 16:49 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSementara prospek ekonomi negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang, khususnya akan dibatasi oleh beban utang yang besar, suku bunga tinggi, dan meningkatnya kerentanan terkait iklim yang berpotensi merusak, dan dalam beberapa kasus bahkan membalikkan kemajuan yang telah dicapai dalam SDG.
Inflasi Cenderung Menurun
Inflasi global diproyeksikan akan menurun lebih lanjut, dari sekitar 5,7 persen di tahun 2023 menjadi 3,9 persen di tahun 2024. Namun, tekanan harga di banyak negara masih tinggi, dan eskalasi konflik geopolitik lebih lanjut berisiko meningkatkan inflasi.
Laporan itu menyatakan, inflasi tahunan di sekitar seperempat dari semua negara berkembang diproyeksikan melebihi 10 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak Januari 2021, harga konsumen di negara-negara berkembang telah meningkat secara kumulatif sebesar 21,1 persen, yang secara signifikan mengikis keuntungan ekonomi yang diperoleh setelah pemulihan COVID-19.
Di tengah gangguan terhadap pasokan, meluasnya konflik, dan cuaca ekstrem, inflasi harga pangan lokal di banyak negara berkembang tetap tinggi. Hal ini menimbulkan dampak tidak proporsional terhadap rumah tangga termiskin. SB/VoA/
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!