Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PBB: Hampir 25 Juta Orang di Sudan Butuh Bantuan Kemanusiaan

📅 Sabtu, 06 Jan 2024, 00:00 WIB | Oleh:
PBB: Hampir 25 Juta Orang di Sudan Butuh Bantuan Kemanusiaan Doc: ISTIMEWA
Ket. Warga negara bagian Khartoum dan al-Jazira, yang mengungsi akibat konflik yang sedang berlangsung di Sudan antara tentara dan paramiliter, mengantre untuk menerima bantuan dari organisasi amal di Gedaref, baru-baru ini.

WASHINGTON - Kepala bantuan PBB, Martin Griffiths, pada Kamis (4/1), memperingatkan agar penderitaan orang-orang di Sudan tidak semakin parah akibat perang yang sedang berlangsung di negara itu.

"Di seluruh Sudan, hampir 25 juta orang akan membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2024. Namun, kenyataan suramnya adalah meningkatnya permusuhan membuat sebagian besar yang butuh bantuan tersebut berada di luar jangkauan kita," kata Griffiths dalam sebuah pernyataan.

Dikutip dari Middle East Monitor, ia mengatakan perang yang berlangsung selama hampir sembilan bulan telah membuat Sudan terpuruk dan semakin hancur dari hari ke hari.

"Seiring dengan meluasnya konflik, penderitaan warga semakin mendalam, akses kemanusiaan semakin terbatas, dan harapan semakin berkurang. Ini tidak boleh berlanjut," katanya.

Sembari menekankan bahwa kekerasan yang kian meningkat juga membahayakan stabilitas kawasan, Griffiths mendesak masyarakat internasional, khususnya mereka yang memiliki pengaruh pada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Sudan, untuk mengambil tindakan yang tegas dan segera guna menghentikan pertempuran dan mempertahankan operasi kemanusiaan.

Terpaksa Mengungsi

Griffiths mengatakan perang telah memicu krisis pengungsian terbesar di dunia, menewaskan lebih dari tujuh juta orang, dan 1,4 juta di antaranya telah menyeberang ke negara tetangga yang sudah menampung banyak pengungsi.

"Bagi rakyat Sudan, tahun 2023 adalah tahun penderitaan. Pada 2024, pihak-pihak yang berkonflik harus melakukan tiga hal untuk mengakhirinya. Melindungi warga sipil, memudahkan akses kemanusiaan, dan menghentikan pertempuran- segera," tambahnya.

Sudan telah dilanda perang antara militer, yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al- Burhan, yang merupakan kepala Dewan Kedaulatan yang berkuasa, dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).

Menurut perhitungan PBB, sedikitnya 12.260 korban telah tewas dan lebih dari 33 ribu luka-luka dalam konflik tersebut. Krisis kemanusiaan terus memburuk ketika hampir 6,8 juta orang meninggalkan rumah mereka untuk mencari keselamatan di Sudan atau di negara-negara tetangga.

Beberapa perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh mediator dari Arab Saudi dan Amerika Serikat gagal mengakhiri kekerasan tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...

DPR sahkan UU APBN 2027

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
 DPR sahkan UU APBN 2027
Luar Negeri
Krisis Dana UNHCR Mengancam...
Advertisement
Pendaftaran Lowongan Pegawai KAI Hanya Lewat Situs Resmi & Gratis, Pencari Kerja Diminta Waspadai Penipuan

Pendaftaran Lowongan Pegawai KAI Hanya Lewat Situs Resmi & Gratis, Pencari Kerja Diminta Waspadai Penipuan

29 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.