Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kenali 3 Jenis Cuaca Ekstrem yang Merusak Akibat Perubahan Iklim

📅 Sabtu, 06 Jan 2024, 14:23 WIB | Oleh: Tim Penulis

Lengkungan inilah yang perlu kita waspadai. Sebab, lengkungan terjadi karena ada pusaran angin di kedua ujung garis, yakni pusaran siklon (berlawanan dengan arah jarum jam) dan antisiklon (searah jarum jam). Bayangkan betapa parahnya daya rusak dari bow echo akibat dua pusaran yang berpasangan ini.

Bukan hanya siklon, di kedua ujungnya, bow echo juga biasanya mengandung awan downburst di bagian tengah atau lengkungannya. Awan ini menumpahkan hujan yang sangat deras dengan tempo amat cepat di suatu tempat.

Besarnya energi bow echo menghasilkan angin puting beliung yang begitu destruktif. Ini kami amati dari rekonstruksi kejadian bow echo di Cimenyan, Bandung, pada Mei 2021 (riset sedang dalam proses telaah). Saat itu, sang bumerang yang berkecepatan 56 km/jam merusak sekitar 361 rumah.

3. Mesoscale convective complex (MCC)

Mesoscale convective complex (MCC) adalah fenomena cuaca ekstrem yang sering terjadi pada akhir tahun lalu di Pulau Jawa.

MCC terbentuk dari kluster-kluster awan yang saling bergabung lalu membentuk satu bulatan. Kluster ini pada awalnya hanya berskala kecil kemudian perlahan-lahan membesar. MCC dapat menciptakan hujan ekstrem selama tiga hari berturut-turut.

Contoh fenomena MCC terjadi di Bandung raya, Jawa Barat, pada 23-25 Maret 2021. Banjir ini menyebabkan 4.161 rumah di Kabupaten Bandung terendam.

Kluster awan juga bisa terbentuk lebih dari satu kumpulan dalam waktu bersamaan, atau biasa disebut MCC kembar. Kondisi ini menyebabkan kejadian badai stasioner yang memicu hujan ekstrem dan lama. Di Luwu, Sulawesi Selatan, MCC kembar menyebabkan banjir bandang pada Juli 2020. Cuaca ekstrem kemudian 38 orang meninggal dunia, 58 korban luka, dan 14 ribu penduduk mengungsi.

Pentingnya prediksi cuaca ekstrem

Dengan kondisi negara yang dikelilingi laut, Indonesia memiliki risiko tinggi mengalami cuaca ekstrem. Sebab, fenomena meteorologi di atmosfer dapat terkombinasi dengan dinamika di laut.

Kita membutuhkan cara memprediksi yang lebih baik untuk mengantisipasi berbagai anomali cuaca akibat perubahan iklim. Kita, misalnya, tidak bisa hanya mengasumsikan puting beliung seperti sebelumnya yakni kondisi angin ekstrem yang berlangsung cepat.

Untuk mengantisipasi ekstrem, kita perlu lebih aktif mempelajari dinamika cuaca dan pola kejadian ekstrem. Indonesia memerlukan tim 'pemburu badai' yang memantau kejadian ekstrem lalu mempelajarinya. Tujuannya agar di masa depan kejadian serupa dapat diantisipasi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga harus lebih berkoordinasi langsung ke pimpinan daerah dan kelompok masyarakat seputar risiko cuaca ekstrem. Harapannya, sistem pencegahan dini dapat semakin kuat, dan masyarakat lebih sigap menghadapi kejadian ekstrem yang berisiko lebih sering di masa depan.The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

15 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Daerah
Peringatan Hari Keamanan Pa...
Ekonomi
Program SPHP Kedelai Dukung...
Nasional
Pemerintah Perkuat SDM Mela...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.